Selasa, 04 Maret 2014

TIGA PANGERAN PEGAGAN ILIR

Legenda Marga Pegagan Ilir (PIS) II ini, berpegang pada hasil penyelidikan Haji Zainal Arifin, Pembarap Marga (1943-1945), dibantu Haji Muhamad Kafen, putera bungsu pangeran haji Malian Pasirah yang ke lima.


Marga PIS II telah didirikan secara resmi sekitar tahun 1870, berkedudukan di Sungai Pinang dibawah Pimpinan Pesirah. Sebelumnya, lingkungan ini berada dibawah kekuasaan seorang jenang yang berkedudukan di Talang Pegadungan. Lokasi tempat itu sekarang berada sekitar tepi sungai Risan Jenang dusun Talang Balai. Pergantian ini terjadi karena terjadi pergantian pada kesultanan palembang.Darussalam.


Selama masa interegnum akibat pergantian itu Jenang berganti menjadi Pasirah dan dalam masa transisi itu, jenang masih tetap dipakai. Maka yang pertama menjabat pasirah pengganti jenang di talang pengaduan risan jenang talang balai itu adalah wujud yang mangaku jabatannya selama satu tahun delapan bulan dan digantikan oleh onong yang meminpin selama enam bulan. Penggantinya ialah bahar yang juga memangku jabatan selama delapan bulan. 


Pimpinan yang ke empat adalah abdul halik, yang dikenal pula dengan nama pangeran liting memproleh gelar pangeran wirakrama. Inilah pimpinan yang paling lama sepanjang sejarah marga itu. Jabatan kepala marga dipegang pangeran liting selama tiga puluh enam tahun. Pangeran liting diganti puteranya pangeran Malian memimpin selama sembilan belas tahun, diganti depati Muhamad nur putera Malian menjabat selama lima tahun. Selanjutnya secara berturut-turut pimpinan Marga PIS II dipimpin oleh Thalib bin Ahyat bin Liting, Jemahir dari Ulak Kerbau, kembali Muhamad Nur, kembali lagi Jemahir, Sihar dan Abdulmalik. 


Tokoh lain dari pegagan ilir yang tidak dapat di pisahkan dari pangeran liting adalah menantunya, Muhamad Nuh. Ia pangeran dari Tanjung Sejaro, Pegagan Ilir suku satu. Menantu pangeran Liting ini, antara lain melanjutkan pembuatan terusan bujang setelah sungai rotan sampai ke pemulutan ilir.


Tiga Pangeran
Pangeran Liting 
Pada awal pangeran Liting akan menjadi pasirah, seorang controleur Belanda mengumpulkan masyarakat pedusunan dalam Marga itu. Kepada mereka diserukan agar segera memilih seseorang Pasirah dan pimpinan mereka karena pasirah lama telah berhenti dari jabatannya. Ditanyakan kepada masyarakat siapa yang hendak di pilih menjadi pimpinan mereka. Pada waktu itu seluruh yang hadir menjawab bahwa mereka setuju apabila Abdul Khalik atau Liting menjadi pimpinan mereka. Pilihan mereka hanya pada tokoh yang satu itu saja.


Ketika ditanya mengapa memilih Liting? Mereka menjawab, alasannya adalah karena Liting bersifat jujur dan ia dapat membaca dan menulis. Setelah permufakatan dikukuhkan, mereka mencari tokoh yang di maksud. Akan tetapi ia tidak berada di ruagan itu. Mereka menduga bahwa kalau tidak disawah, ia pasti sedang di kebun mengambil kayu. Musyawarah dihentikan, seluruh hadirin pergi mencari Liting.


Dugaan mereka benar, mereka mendapatkan Liting sedang berada di sawah mengambil kayu dan mengajak nya segera pulang karena di panggil untuk di jadikan Pasirah. Setelah sampai di hadapan Coutroleur, Liting menyatakan kepada coutroleur itu bahwa ia tidak dapat tulis baca huruf latin. Ia hanya pandai tulis baca huruf Arab dan surat ulu saja. Kedua kemampuan itu ternyata sudah di pandang cukup, dan Liting di angkat menjadi pasirah. Sementara itu kayu yang telah berhasil ia kumpulkan dari kebun tadi di bawah pulang. Kayu yang di ambil nya ialah batang pohon palas, disimpan dan di jadikan benda pusaka zuriatnya. Terakhir, benda itu di simpan di atas loteng Uma Beso dan terbawa ke Sirah Pulau Padang bersamaan dengan pemindahan rumah tersebut. Benda itu ikut terbakar ketika Uma Beso terbakar. Sekarang rumah itu tinggal puing-puingnya saja.


Selama masa jabatannya sebagai Pasirah, nama Pangeran Liting cukup harum baik dipandang oleh rakyat maupun oleh pihak colonial atasannya. Selama ia memegang tampuk pimpinan Marga PIS II, telah berhasil di angkat menjadi pangeran dan mendapatkan tanda jasa bintang emas, dan terakhir mendapatkan bintang besi.


Salah satu usahanya yang terbesar ialah memimpin pembuatan dan penggalian Terusan Bujang yang membentang dari hulu dusun Talang Balai menuju Ketapang, sampai disungai Rotan di lanjutkan oleh menantunya Muhamad Nuh (Pangeran Marga Pegagan Ilir Suku I) ke pemulutan Ilir. Ia menghentikan sampai sungai Rotan, karena dusun itu merupakan batas akhir dari Marga Pegagan Ilir Suku II yang di pimpinnya. Ketika di buat, lebar sungai itu hanya dua setengah meter saja.


Terusan ini di kerjakan secara turunan ayam (bergotong royong) oleh rakyat tua-muda laki-laki perempuan, dan terutama para bujang. Oleh karena itu sungai terusan ini disebut dengan Terusan Bujang. Sementara itu, Sungai Ogan yang asli berbelok-belok melewati dusun Sukapindah, Ulak kerbau, Kerinjing, Sukaraja, Mandiangin, Arisan gading, Tanjung Sejaro, Saka Tiga, terus kekanan menuju Muara Penimbung, Talang Aur, seterusnya Talang Pangeran, Ulak Kembahang sampai Pemulutan Ilir sampai bertemu dengan Terusan Bujang.


Sungai Ogan asli semakin dangkal dan di penuhi oleh pasir, sedangkan Terusan Bujang yang lurus airnya sangat deras sehingga mengalirkan air Sungai Ogan. Pembentukan terusan ini sangat bermanfaat dalam mengairi persawahan di kanan dan di kirinya. Dengan begitu, sawah ladang menjadi lebih subur dan memberi keuntungan yang besar. Dusun dan lebak yang memperoleh manfaat langsung dari terusan ini antara lain dusun Kotadaro, ketapang, Jagolano, Rantau Panjang, Sejangko, dan lain-lain.


Penghasilan sawah menjadi meningkat dan terkenal dengan sebutan Beras Pegagan. Ini merupakan salah satu jasa Pengeran Liting, pesirah ke empat Marga PIS II.


Pangeran Muhamad Nuh 
Pangeran Nuh, di kenal pula dengan nama Pangeran Anom Kesumo , putera pertama Depati Dece dengan istrinya Rokeba. Ia menjadi kepala Marga Pegagan Ilir Suku I menggantikan Depati Ubit (putera Dece dari istrinya yang lain) yang meninggal. Namanya di kenal dan di bicarakan sampai keluar daerah, baik dikalangan bawah maupun dikalangan atas. Ia memiliki keunggulan sebagai admistrator ulung, memilliki jaringan dan persahabat yang luas, dan pekerja yang ulet.


Selain membantu mertuanya membuat Terusan Bujang, salah satu sifat yang menonjol dari pangeran Muhamad adalah keunggulan pada bidang admintrasi jaringan kerja yang luas. Diantara karya besar yang ia wariskan yang telah dan akan di nikmati oleh sepanjang masa, ialah Terusan Bujang (Sungai Kedukan) sepanjang lebih kurang 15 kilo meter. Berpangkal dari desa talang Balai dan berujung didesa Sungai Rotan, yang memberikan keuntungan bagi pengairan persawahan daerah pegagan secara kesuluruhan, disamping membebaskan desa-desa di sepanjang pinggiran sungai dari luapan sungai Ogan. Pekerjaan besar itu di kerjakan meneruskan karya mertuanya yang memulai dari Marga Pegagan Ilir Suku II.


Pangeran ini melakukan kerjasama pula pemerintah Marga Saka Tiga membangun pasar Indralaya yang merupakan pusat perekonomian daerah ini yang vital dan berkembang pesat sampai sekarang. Ia menjadikan Lebung Karangan sebagai waduk, sehingga persawahan ribuan di sekitarnya terbebas dari bahaya kekeringan.


Tidak dilupakan pula, jalan raya yang sekarang terbentang mulus, sekitar 20-an kilo meter panjangnya, adalah buah tangannya pula. Pada mulanya hanya jalan setapak, kemudian oleh pihak berwenang dipercayakan oleh kepadanya membangunnya menjadi jalan raya. Jalan itu menghubungkan kota Tanjung Raja ke simpang Timbangan juga gerbang Ogan dan komering.


Ia bersabat baik dengan Residen Palembang yang memerintah waktu. Demikian erat persahabatan mereka sehingga ketika Residen ini pindah ke Banjarmasin, mereka tidak putus komunikasi dengan saling kirim surat. (sutar-surat disimpan rapi pada arsip keluarga salah sorang keturunannya). Pangeran Nuh bersahabat baik pula Hoofd Demang Cek Gus yang dikenal juga sebagai Hoofd jaksa (orang pribumi tertinggi pangkatnya pada zamannya di palembang). Dengan Hooft jaksa ini hubungan di tingkatkan lagi melalui tali pernikahan putera-puteri keduanya, RH Mohd. Ali dengan mahani. Sahabat baik terkenal Pangeran Nuh lainny. Ialah Demang Abdulrozak, terakhir menjabat Residen dan merupakan Residen terakhir pula dalam sejarah Karesidenan Palembang. Mereka pun meningkatkan hubungan dengan berbesanan.


Sebagai administrator ulung, ia membawa Marga Pegagan Ilir Suku I menjadi harum namanya secara luas. Di tempat ini pernah berdiri bank Rakyat (Volksbank), disamping desa yang pertama kali memperoleh akses telepon. Kejayaan marga ini memang terjadi pada masa kepemimpinan Muhamad Nuh.


Sejak kepemimpinan Muhamad Nuh marga ini memiliki kantor yang luas dengan tenaga-tenaga admistasi yang terampil dan telaten, sehingga konon, banyak kantor marga lainnya mengirim orangnya untuk di sini. Kantor nya sendiri merupakan satu-satunya kantor Marga yang memiliki hubungan telepon (sementara pesawat dan hubungan telepon itu sendiri masih “barang” barang langka pada zamannya). Dengan berbagai kemajuan yang diperoleh, menyebabkan Tanjung Sejaro sering mewakili pedesaan secara untuk kunjungan daerah para petinggi pusat. Tidak kurang 3 Menteri dan 2 Duta Besar pernah berkunjung kemari. Selain berdiri Bank Rakyat, juga telah memiliki Sekolah Rakyat (Vervoks-school) yang sangat tua. Vervoks School yang terdapat di desa ini adalah yang tertua di Sumatra setelah di Padang. Di bangun pada tahun 1916 dan hingga sekarang masih tetap utuh. Tanjung sejaro adalah ibu kota Marga dan bukan kecamatan, tetapi tempat ini menjadi tempat kedudukan para Asisten Demang.


Pangeran Nuh meninggalkan sebuah Rumah Bari yang besar, luas dan anggun. Terbuat dari tulang-tulang unglen dan papan tembesu rumah itu salah seorang ahli warisnya dan salah satu kebanggaan pariwisata Sumatra Selatan.


Pangeran Nuh harus pula dicatat sebagai seorang kakek yang telah mempersembahkan seorang pahlawan bagi perang kemerdekaan RI. Ia adalah Rustam Effendi, putera Pertama Depati Mohamad Nasaruddin dan bagi pangeran Nuh adalah cucu pertama laki-laki. Namanya kemudian manjadi nama salah satu jalan di kota palembang. 


Pangeran Haji Malian 
Pangeran Haji Malian adalah putera Pangeran Liting, pasirah ke lima. Ia dipilih langsung oleh rakyat pada tahun 1908. tokoh ini dikenal sebagai orang yang sangat alim. Memperoleh pendidikan Islam di Mekkah sejak berusia muda, dan tinggal pada Syi’if Ali, berguru kepada Syaikh Umar Sumbawa. Ketika kembali ke tanah air telah membawa dua orang puteri dari masing-masing satu dari istri pertama yang meninggal ketika di Mekkah, dan seorang lagi dari istri ke dua.


Ketika menggantikan ayahnya sebagai pasirah, ia telah di kenal sebagai kiyai di lingkungan Marga dan daerah sekitarnya. Meski memangku jabatan sebagai Pasirah yang selalu di sibukkan oleh tugas rutin Marga, ia tetap menyempatkan diri untuk menyempatkan diri untuk menyampaikan dakwah dan menyelenggarakan pengajian, cawisan, dan sebagainya di dusun tempat tinggal atau dusun lain dalam Marganya.


Ia sangat disegani dan ditakuti oleh mereka para pelanggar kejahatan dan pencurian. Dengan dengan ilmu yang dimilikinya ia dapat membuktikan apakah ia dapat membuktikan apakah orang itu yang mencuri atau bukan. Menurut cerita, meski si pencuri berusaha segala cara tidak mengakui perbuatannya, tetapi apabila telapak tangan nya di pegang akan keluar asap sebagai tanda memang mencuri. Si pencuri mengakui perbuatannya. Bila memang tidak mencuri, tidak keluar asap dan merasakan apa-apa. Ia dapat pula menaklukkan orang yang memiliki ilmu kebal seperti tidak mempan senjata atau tidak merasakan sakit bila dipukul. Ia dapat menjadikan tawar ilmu seperti itu.


Salah satu kebiasaannya ialah secara terjadwal melakukan kunjungan kedusun-dusun di dalam Marganya. Apabila dusun yang dikunjungi itu dekat, ini menempuhnya dengan berjalan kaki, apabila jauh ia lakukan dengan menggunakan perahu tenda. Sambil menuju kerumah kerio ke suatu dusun ia memeriksa keadaan kebersihan dusun. Sesampai di rumah kerio biasanya ia telah di tunggu oleh masyarakat umum untuk mendengarkan ceramah serta cawisan. Apabila kunjungan dilakukan pada hari jum’at, ia langsung yang menjadi khatib dan imam shalat jum’at di dusun yang bersangkutan. Pendidikan agama keluarga yang menjadi perhatiannya yang serius. Ia mendidik putera-puterinya di lembaga pendidikan keagamaan seperti Islamiah Tanjung Raja, Al-Munawar Palembang, Jamiatul Khair dan Al-Irsyad Jakarta, dan ada di Mekkah mengikuti jejaknya.


Apabila Pangeran Liting meninggalkan karya monumental berupa sungai Terusan Bujang, Pangeran Haji Malian mewariskan lembaga pendidikan. Sekolah Islamiah Tanjung Raja lembaga pendidikan yang ia dirikan, dengan mendatangkan berpendidikan Saudi Arabia. Sekolah ini sampai sekarang masih ada dan telah di Hibahkan kepada Muhammadiyah. Meski ia di kenal sebagai pangeran dan seorang ulama, tetapi Haji Malian bukanlah merupakan sosok yang anker. Ia sangat akrab, dan memberikan pengajaran agama dengan cara yang santai seperti sambil minum kopi dan bercerita yang penuh hikmah.


Pangeran Haji Malian meletakkan jabatannya pada tahun 1927 karena merasa telah uzur. Ia berhenti dengan hormat, dan digantikan oleh puteranya Haji Ali Muhamad Nur.

Related Posts

TIGA PANGERAN PEGAGAN ILIR
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.