BREAKING NEWS

Taman Prof DR Amri Yahya (Taman Segi Tiga Emas) Kayuagung

Selamat Datang Di Kota Kayuagung

Biduk Kajang

Taman Prof DR Amri Yahya

Tradisi Midang Morgesiwe

Learn more

Kayuagung Gilderic

CERITA RAKYAT

Cerita Rakyat

Wista & Budaya

Jalan jalan

Galeri

POTENSI WISATA DANAU TELOKO KAYUAGUNG

Bupati OKI, H. Iskandar, SE mengunjungi Danau Teloko di Desa Teloko Kecamatan Kota Kayuagung, Sabtu, (4/2). Orang nomor satu di Bumi Bende Seguguk ini terpesona melihat keindahan alam di Danau ini. Iskandar mengatakan Danau Teloko berpotensi dikembangkan menjadi Desa Wisata untuk meningkatan pendapatan masyarakat setempat.

“Desa wisata itu konsep pengembangannya adalah kepariwisataan berbasis masyarakat. Wisata alam, wisata agro, seni dan budaya. Teloko ini kita lihat memiliki potensi tinggi dibidang wisata air. Viewnya bagus ditambah potensi perikanan yang ada” pungkas Iskandar.

Pengembangan desa wisata menurut Iskandar bisa terealisasi karena Sektor pariwisata saat ini tengah dikembangkan menjadi salah satu ‘tulang punggung’ perekonomian Indonesia.

“Potensinya cukup besar, Kita akan ajak pihak swasta agar ikut berperan aktif melakukan pendampingan kepada kelompok masyarakat di desa wisata untuk dapat lebih mengembangkan potensinya” Ungkap Iskandar.

Bupati berharap kedepan lokasi ini akan dikelola dengan baik. Mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, rumah makan, home stay, lokasi parkir, dan lainnya.

Kabupaten OKI sendiri memiliki banyak potensi dibidang wisata air. Selain Pantai Maspari dan Tanjung Menjangan serta kawasan Kota lama di pinggiran Sungai Komering, satu lagi potensi wisata di wilayah ini, yaitu Danau Teloko atau yang dikenal dengan warga setempat dengan Lebak Teloko.

Danau Teloko terletak di Desa Teloko, Kecamatan Kota Kayuagung. Menuju ke Danau ini pun tidak jauh. Kurang dari setengah jam dari pusat Kota Kayuagung. Menuju ke lokasi danau, pengunjung harus naik sampan bermuatan 3 sampai dengan 5 orang. Bersampan mengarungi lebak tentu akan menjadi pengalaman unik. Kurang lebih 15 menit, pengunjung akan sampai ke Danau teloko. Danau Teloko sendiri memiliki hamparan kurang lebih seluas 500 ha. Uniknya, ditengah-tengah danau terdapat pulau terapung yang ditumbuhi pepohonan perdu.

Camat Kota Kayuagung, Dedy Kurniawan, S. STP menjelaskan potensi danau ini sudah lama dimanfaatkan masyarakat selain sumberdaya perikanannya, air danau yang tidak pernah mengering di manfaatkan jadi sumber air bersih oleh PDAM Tirta Agung.

“Sejauh ini Danau Teloko sangat bermanfaat untuk masyarakat. Potensi ini akan kita kembangkan lagi agar menjadi potensi wisata baru di Kecamatan Kota Kayuagung” Ungkap Dedy.

Potensi danau teloko ini menurut Dedy bisa beriringan dengan pengembangan wisata air Sungai Komering.

“Kedepan kita bisa jual paket wisata desa misalnya adventure ke danau teloko dari kawasan kota lama Sungai Komering. Tentu itu akan mengundang daya tarik wisata serta melibatkan banyak sektor juga agar menggugah masyarakat mencintai Sungai Komering dan danau teloko itu sendiri” Pungkas Camat penuh inovasi ini.

Potensi ekonomi itu, menurut Dedy akan di kelola oleh desa melalui BUMDES sehingga bisa menjadi pendapatan desa.

“Kita dorong desa mampu menggali potensi yang mereka miliki untuk kesejahteraan masyarakatnya” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten OKI, H. Amirudin, S. Sos mengatakan Danau Teloko sebelumnya sudah masuk dalam Rencana Strategis Pengembangan Pariwisata Kabupaten OKI tahun 2013 dan telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten OKI namun pengelolaannya belum maksimal.

“Ke depan kita buatkan DED untuk pengembangan wisata danau teloko ini agar menjadi destinasi wisata baru dengan konsep desa wisata. Apa lagi posisinya mudah dijangkau. Dalam jangka pendek kita serahkan ke desa agar menjadi sumber pendapatan bagi dan dikelola BUMDES setempat” Ungkap Amir.

PENGERAJIN PENGILAR IKAN DI PAMANGAN

Kegiatan menangkap ikan sudah dimulai sejak zaman dahulu. Seiring perkembangan zaman, alat penangkap ikan seperti kail pancing, tombak, jala, dan perangkap ikan pun mulai digunakan. Di kalangan masyarakat Melayu khususnya Kabupaten Ogan Komering Ilir, ada perangkap ikan tradisional yang masih digunakan hingga kini yaitu Pengilar.

Alat tangkap pengilar termasuk dalam alat tangkap jenis perangkap. Pengilar memiliki nama lain yaitu sengkirai atau juga disebut kempek. Alat tangkap model perangkap ini merupakan alat yang banyak digunakan masyarakat di daerah pingiran sungai dan daerah rawa.

Alat tangkap ini menjadi alat tangkap yang banyak digunakan karena memiliki berbagai kemudahan yang disukai masyarakan nelayan pada umumnya. diantaranya alat tangkap pengilar ini adalah awet (tahan lama), mudah digunakan karena hanya tinggal menaruhnya di tempat-tempat yang tergenang air, hasil yang didapatkan juga cukup banyak dan berfariasi, umpan dapat diganti-ganti sesuai dengan yang diinginkan, dan faktor lain adalah harganya murah (di pasar satu set alat pengilar hanya sekitar Rp. 16,000 saja).

Bapak Salimin (70 tahun) warga Desa Ulak Depati, Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, masih membuat pengilar untuk menambah pendatapan ekonomi keluarganya.

Bapak empat anak ini selain bekerja sebagai petani, juga mencari nafkah dengan membuat pengilar (bubu alat penangkap ikan). Menganyam pengilar telah dilakukannya sejak tahun 1970. Pengilar yang dibuatnya berasal dari anyaman bilah bamboo yang bentuknya hampir seperti bubu yang terubat dari kawat untuk menangkap ikan.

Untuk bahan bakunya, seperti bambu Bapak Salimin membeli di Desa Secondong, Pampangan. Termasuk rotan dan tali untuk menganyam. Dalam seminggu biasanya Bapak Salimin dapat menghasilkan 100 pengilar. Untuk harganya setiap satu pengilar dihargai Rp16ribu. “Kalau untungnya bisa mencapai sekitar 2 juta perbulan,” 

Sedangkan pemasarannya biasanya dijual kepada warga yang datang dari Palembang, dan beberapa daerah yang ada di Sumsel. Bahkan warga Jambi juga sering datang untuk membeli pengilar yang dibuatnya tersebut. 

Di Desa Ulak Depati Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir, masih kita jumpai pengerajin atau pembuat pengilar ini. Walaupun tinggal beberpa pengerajin yang masih eksis, dan tidak banyak seperti dulu.

Selain dirinya ada beberapa warga lain juga di Desa Ulak Depati yang membuat pengilar tersebut. Walaupun bukan sebagai pencaharian utama, namun dengan membuat pengilar ini bisa membantu perekonomian keluarganya. Dirinya juga berharap agar mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, seperti modal maupun pembinaan.

KERBAU PAMPANGAN MERUPAKAN 7 RUMPUN KERBAU ASLI INDONESIA

Dalam rangka Bulan Bakti Peternakan Nasional Dinas Peternakan Kabupaten OKI mengadakan Kontes Kerbau “Bubapati Cup” 2016, yang diadakan di Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan kontes kerbau yang pertama di Sumsel. Rabu (28/09/16) Desa Pampangan Kec. Pampangan OKI. 

Kontes Kerbau ini dihadiri Bupati OKI dalam hal ini yang diwakili Wakil Bupati Ogan Komering M. Rifa’I SE, Forkopimda OKI, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Kasi Produksi Sapid an Kerbau, Kepala BPTU-HPT Sembawa, Kepala BPTP Sumsel, Sekda H. Husin S.PD M.Si, FKPD, SKPD, Camat Pampangan, Kelapa Desa se-Kecamatan Pampangan, Para Juri, Para Pserta Kontes Kerbau, Toko Masyarakat dan Masyarakat Pampangan. 

Acara Kontes Kerbau ini juga diisi dengan stand pasar budidaya kerbau dan Pemberian bantuan kepada kelompok Tani Berupa “Alat Tulis Kantor printer pengolahan data recorder, Obat-Obatan dan Vitamin Kepada 10 Kelompok Tani, Laptop Kepada 4 Kelompok Tani, Kerbau 3 Kelompok Tani, Sapi 2 Kelompok Tani, Kambing 3 Kelompok Tani, Itik 2 Kelompok Tani, Chopper 4 Kelompok Tani dan Perahu Kepada 2 Kelompok Tani. 

Kepala Dinas Peternakan OKI Haris Panani SP MSi dalam laporanya mengatakan “Kontes Kerbau di pulau pematang dadu desa pampangan ini adalah satu-satunya kontes kerbau di Sumsel, sesuai keputusan menteri pertanian tahun 2013 Sumsel ditetapkan Plasma Nutpa/ keturunan asli kerbau pampangan, satu dari 7 kerbau asli dari Indonesia.” 

“Yang menjadi tujuan dan harapan kontes kerbau pampangan ini, memberikan apresiasi dan motivasi kepada masyarakat dalam pelestarian kerbau pampangan, sebagai bahan seleksi layak bibit kerbau baik penjantan ataupun betina yang berkwalitas, agar kerbau pampangan lebih dikenal dan menjadi salah satu Icon kabupaten Ogan komering Ilir dan juga dapat dimasukan pada kalender wisata/destinasi wisata OKI, dengan momentum ini juga semoga dapat dijadikan salah satu pembangkit perekonomian, melalui ternak, Lanjutnya”. 

Berbagai upaya telah dilakukan, bahkan dalam melestarikan kerbau pampangan, dinas Peternakan Kab OKI telah bekerjasama dengan pemerintah pusat (Dalam hal ini Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Dinas Peternakan Provinsi Sumsel, BPTU-HPT Sembawa, BPTP Sumsel, Serta Bekerjasama dengan Universitas Sriwijaya), Terangnya.” 

Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Kasi Ir Mirta Birawan mengatakan “Kerbau adalah usaha yang kurang diminati atau kurang menguntungkan, hal ini dikarenakan pembibitan memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar, jadi memang banyak yang tidak tertarik, tidak hanya pada kerbau tetapi sapi juga karena prosesnya panjang, membutuhkan waktu 2 tahun 10 bulan. Tetapi jika para peternak kita teliti dan telaten dalam sangat menghargai dengan tenang dan sangat senang dengan sejarahnya, mengingat hal tersebut maka kegiatan penguatan pembinaan dikabupaten tersebut maka akan menjadi kegiatan yang berkesinambungan, jadi memang butuh waktu yang panjang dan pendaannya perlu dari APBN.” 

“Untuk itu saya perlu menyampaikan bahwa dukungan pelaksanaan dari APBD Kabupaten maupun Provinsi sangat diperlukan, untuk keberlanjutan kegiatan ini dalam rangka terbentuknya suatu wialayah sebagai sumber bibit, Terangnya.” 

“Kegiatan ini bukan hanya untuk melestarikan ternak asli atau lokal tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk meningkatkan peternakan kerbau, Harapnya” 

Wakil Bupati OKI M. Rifa’I SE mengatakan “Kerbau pampangan adalah salah satu dari 7 rumpun kerbau di indonesia. Kepada para peserta lomba saya ucapkan selamat disertai harapan agar dapat menjadi contoh bagi peternak yang lain, serta bisa lebih baik lagi, bagi yang belum juara janganlah berkecil hati, belajarlah dari para pemenang, carilah strategi agar kedapan mampu menjadi juara demi peternak serta pelestari ternak kerbau pampangan.” 

M. Rifa’I SE berharap “Pemerintah daerah maupun pusat dapat memperhatikan pelestarian kerbau pampangan ini agar terus berjalan. 

Adapun Pemenang Kontes Kerbau Pampangan Piala Bupati OKI tahun 2016. 
Kategori Kerbau Jantan Penarik Gerobak : 
  1. Juara Harapan I nilai 49,2 atas nama Subhan asal Desa Sungutan Air Besar Kec. Pangkalan Lampam 
  2. Juara III nilai 50,6 atas nama Daman asal Desa Pulawan Kec. Pangkalan Lampam 
  3. Juara II nilai 50,8 atas nama Sanadi asal Desa Lebung Batang Kec. Pangakalan Lampam 
  4. Juara I nilai 51,6 atas nama Rasyid asal Desa Pulau Betung Kec. Pampangan 

Kategori Kerbau Jantan 
  1. Juara harapan I nila 50,0 atas nama Sarkowi asal Desa Pulau Layang Kec. Pampangan 
  2. Juara III nilai 50,1 atas nama Hemi asal Desa Kuro Kec. Pampangan 
  3. Juara II nilai 50,8 atas nama Yani asal Desa Kuro Kec. Pampangan 
  4. Juara I nilai 51,6 atas nama M. Ali asal Desa Pulau Betung Kec. Pampangan 

Kategori Kerbau Betina 
  1. Juara harapan I nilai 50,0 atas nama Hengki asal Desa Pulau Layang Kec. Pampangan 
  2. Juara III nilai 50,1 atas nama Komri asal Desa Pulau Layang Kec. Pampangan 
  3. Juara II nilai 50,8 atas nama Nimoi asal Desa Pampangan Kec. Pampangan 
  4. Juara I nilai 51,6 atas nama Muhammad asal Desa Bangsal Kec. Pampangan

TRADISI MIDANG MORGE SIWE 2016 ADA YANG BERBEDA

Selain memiliki banyak tempat wisata, Kabupaten OKI juga memiliki beragam wisata budaya, salah satunya midang. Midang merupakan kegiatan arak-arakan atau lebih mirip karnaval, yang setiap tahun mejadi jadwal rutin, setiap idul fitri akan dilaksankan midang. Midang tahun 2016 ini dilaksanakan selama 2 hari yaini Jumat dan Sabtu (8-9/07/16) atau lebaran ke 3 idul fitri dan lebaran ke 4 idul fitri.


Camat Kota Kayuagung Dedy Kurniawan SSTP menyampaikan midang tahun ini tetap dilaksanakan pada lebaran ketiga dan hari keempat, namun ada perbedaan tahun ini ada dua jenis pakaian yg akan digunakan oleh kelurahan dan ini sudah ditentukan oleh lembaga adat beberapa waktu yg lalu. “Ada pakaian adat ada pakaian nasional, contohnya kelurahan kedaton akan menggunakan pakaian nasional, maksud dari pembedaan ini agar pelaksanaan midang kali ini lebih meriah dan ada perbedaan namun tentu saja tidak akan menghilangkan esensi dari Midang tersebut”, jelas Camat Kota Kayuagung. 


Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI, H. Amirudin, S. Sos, M. Si menjelaskan midang ini diikuti 11 kelurahan dan 11 kelurahan ini di bagi menjadi 2, 6 kelurahan di hari ke 3 idul fitri dan 5 kelurahan di hari ke 4 idul fitri. 


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI menambahkan untuk midang tahun ini di hari pertama 3 kelurahan midang muda mudi kemudian 3 kelurahan berikutnya midang yang biasa dilakukan setiap tahun nya memakai pakaian adat, perangkat kelurahan dan sebagainya, tetapi 3 kelurahan yang muda mudi itu khusus muda mudi semua dan tetap di barisan terdepan harus ada pengantin. Dan untuk hari ke 2 atau lebaran ke 4 ada 2 kelurahan yang memakai pakaian adat seperti tahun –tahun yang kemarin dan 3 kelurahan khusus muda mudi. 


Lebih lanjutkan H. Amirudin, S. Sos, M. Si mengatakan bahwa Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel sangat tertarik dengan kegiatan midang ini, karena midang ini merupakan acara budaya dan adat, sehingga rencana kedepan akan di kaloborasikan dengan kegiatan di Provinsi , seperti pagi kegiatan Provinsi dan di siang harinya kegiatan midang.

PENGURUS SANGGAR SENI BENDE SEGUGUK 2016 - 2021 DIKUKUHKAN

Bertempat di halaman Gor Biduk Kajang telah dilaksanakan Pengukuhan Pengurus Sangar Seni Bende Seguguk Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Komering Ilir periode 2016-2021, Selasa (19/04/16). 

Pengukuhan Sangar Seni Bende Seguguk Dihadiri oleh Wakil Bupati OKI M. Rafai SE, FKPD, SKPD, dan para pelaku Seni serta Pemuda, Wakil Bupati OKI M. Rafai SE mengukuhkan dan Melantik Kepengurusan Sangar Seni Bende Seguguk Periode 2016-2021. 

Dalam Sambutannya M. Rifai SE Menyampaikan, ”Keberadaan Sangar Bende Seguguk Harus Menjadi Penghimpun seluruh Potensi kesenian yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir ini, Sangar Seni Bende Seguguk diharpakan dapat membina minat dan bakat para pekerja seni melalui kerja sama dengan unsur terkait, terus bekerja lebih keras lagi untuk mengalih asset daerah agar kesnian daerah semakin dikenal dan di apresiasi masyarakat luas. 

Dalam Pengukuhan Sangar Seni Bende Seguguk ini di tampilkan Tarian dari Sangar Seni Bende Seguguk, Menurut Ketua Harian Sangar Seni Bende Seguguk Ricard Arg,”Denga adanya wadah seni ini potensi dan bakat kesenian anak-anak dan remaja di Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat di gali dan disalurkan”. 

Richard Arg juga mengaharapkan para pemuda di Kab OKI mencintai seni dan budaya Indonesia khsusnya Kabuipaten OKI, dan kedepan akan melakukan pembinaan dari usia dini di Sangar Seni Bende Seguguk.

TARI PENGUTON DARI KABUPATEN OKI SAMBUT KEDATANGAN MENTERI PARIWISATA

Menteri Pariwisata Arief Yahya disambut Tari Penguton ketika mendarat di Bandar Udara Sultan Mahmud Baddarudin II Palembang dalam rangka kunjungan kerjanya ke ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (12/4) di Executive Room Bandara SMB II. 

Dalam kesempatan ini, Tari Penguton yang merupakan tarian asli daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dipercaya untuk memberikan penghormatan kepada tamu kenegaraan ataupun tamu kedinasan, terlihat anggun bersahaja dengan gerak tari yang luwes dalam balutan pakaian khas tari Penguton yakni, terdiri dari baju kurung bludru tabur, kain songket, selendang songket, asesoris kepala beringin, cempako, mahkota paksangkok, dan asesoris lainnya, serta properti tepak (tempat sekapur sirih), pridon, tombak dan payung kebesaran. 

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Amiruddin SSos MSi kepada wartawan mengatakan, penampilan Tari Penguton dalam menyambut rombongan Menteri Pariwisata ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan budaya daerah yang ada di Kabupaten OKI kepada masyarakat luas. 

“Pagelaran tarian atau kebudayaan dari Bumi Bende Seguguk lainnya, dalam berbagai kesempatan, merupakan cara mempromosikan potensi pariwisata dan budaya, sehingga masyarakat luas pun mengetahui apa saja budaya dari daerah Kabupaten OKI,” kata Amiruddin. 

Ditambahkan Amiruddin, tarian penyambutan tamu ini digelar dengan formasi 9 orang yang berasal dari Sanggar Bende Seguguk yang diasuh oleh Lindasari Iskandar. “Dalam penyambutan ini, selain menampilkan tarian Penguton, Disbudpar OKI juga menyiapkan pamflet tentang Tari Penguton secara detailnya,” tutur Amiruddin yang memiliki ciri khas senyum manisnya. 

Seperti yang diketahui, Tari Penguton adalah tari adat Ogan Komering Ilir, yang dalam pelaksanaannya merupakan unsur yang menyatu dengan adat penyambutan tamu. Hal ini sesuai dengan namaya yang berasal dari bahasa Kayuagung “Uton”, berarti penyambutan. 

Tari memiliki sifat resmi dan tercatat dalam naskah tua kayuagung seperti panda kitbag hokum adat dan pediment hokum adat elite yang debut oleh Poyang Setiaraja dan dibantu jurutulisnya Setiabanding Sugih. 

Jumlah penarinya ada sembilan orang “Morge Siwe”. Tari ini diyakini termasuk cikal bakal tari-tarian yang ada didaerah-daerah Sumatera Selatan (Khususnya Tari Gending Sriwijaya). 

Dengan menggunakan iringan musik perkusi seperti gamelan, gong, gendang yang sebagian instrumen tersebut merupakan hadiah dari Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 dibawa oleh utusan Patih Gajah Mada. 

Tari Penguton dari sejarahnya, tarian ini lahir pada tahun 1889 dan pada tahun 1920, oleh keluarga Pangeran Bakri, tarian ini disempurnakan untuk penyambutan kedatangan Gubernur Jendral Hindia-Belanda Gouverneur General Limberg Van Stirem Bets. Sejak itu tarian ini dijadikan sebagai tari sekapur sirih khas dari Kayuagung. (dob)

BGBS 2016 BISA PROMOSIKAN WISATA DAN BUDAYA KABUPATEN OKI

Bupati Ogan Komering Ilir, Iskandar, SE meminta seluruh finalis Bujang dan Gadis Bende Seguguk (BGBS) Kabupaten OKI tahun 2016 untuk membantu pemerintah mempromosika npotensi Kabupaten OKI.

"Saya ingin Bujang dan Gadis ini tau apa yang dapat mereka lakukan untuk Ogan Komering Ilir. Selain itu bantu kami untuk mempromosikan Kabupaten Ogan Komering Ilir agar semakin banyak investasi dan orang berkunjung ke Kabupaten ini," ujar Iskandar pada malam grand Final pemilihan bujang dan gadis Bende Seguguk (BGBS) di pendopo Kabupatenan, Rabu, (30/3) malam.

Iskandar juga meminta para bujang dan gadis ini mencintai Kabupatennya serta mengetahui semua program Pemkab. OKI.

"Kalau sudah tahu sudah cinta dengan Kabupaten ini, mereka akan mampu memberitahukan potensi OKI ke masyarakat luar, seperti apa soal membangun desa, soal kedaulatan pangan. Orang begitu datang bicara sama mereka mirip-mirip sayalah cerita mempromosikan Ogan Komering Ilir," jelasIskandar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten OKI, Drs. H. Amiruddin, S. Sos, M. Si mengatakan, pihaknya telah membekali 15 pasang finalis BGBS OKI dengan berbagai pengetahuan dalam masa karantina.

Salah satunya adalah, dengan melakukan kunjungan ke destinasi wisata di kabupaten OKI sepert irumah seratus tiang di Sugiwaras Kecamatan Teluk Gelam serta sentra kerajinan masyarakat di Kecamatan Tanjung Lubuk.

"Bujang dan Gadis OKI bukan saja menjadi Duta Wisata dan Budaya. Tetapi juga menjadi panutan dalam kegiatan kemasyarakatan dan sosial," ujar Amir.

Selain itu, Amir juga menjelaskan bahwa ada satu hal yang baru dalam ajang pemilihan Bujang dan Gadis 2016 kali ini, yaitu finalis yang terpilih betul-betul putra daerah Kabupaten OKI.

“semua finalis merupakan putra daerah. Kita tidak ambil dari luar agar mereka ini benar-benar cinta dengan daerahnya” pungkasnya.

Malam puncak grand final BGBS 2016 diikuti oleh 15 pasang finalis yang memperebutkan 10 kategori. Terpilih sebagai Bujang Bende Seguguk Kabupaten OKI, yaitu Hasan dan Gadis atas nama Tri Azizah Siti Salwa.

MALAM GRAND FINAL BGBS 2016 SUKSES DAN MERIAH

Pelaksanaan pemilihan Bujang Gadis Bende Seguguk (BGBS) Tahun 2016 yang dilaksanakan Dinas Pariwisata Kabupaten OKI terselenggara cukup sukses. Itu terlihat dari pada malam puncak grand final BGBS 2016 yang berlangsung di Pendopoan Rumah Dinas Bupati OKI, Rabu (30/03/16).

Gemerlap lampu sorotan warna warni yang menghiasai panggung BGBS serta layar LED, menjadikan acara yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI, benar benar hidup. Malam grand final BGBS 2016 ditampilkan tarian dari Sanggar Seni Benda Seguguk, fashion show busana khas Sumatera Selatan Rancangan Putri Amalia dan parade alumni BGBS 2015. 

Acara itu disaksikan langsung Bupati OKI, Iskandar SE, FKPD, SKPD, Camat se-Kabupaten OKI, Kemudian hadir juga Ketua TP PKK OKI, Lindasari Iskandar SE, para orang tua dan keluarga serta pendukung peserta finalis BGBS 2016. 

Malam puncak grand final BGBS 2016 yang diikuti 15 pasang finalis dari 118 peserta perwakilan dari Dinas Instansi, dari Kecamatan dalam Kabupaten OKI, dan umum serta pelajar. Dalam finalis BGBS 2016 diambil 10 katagori, yaitu Bujang dan Gadis, Wakil Satu dan Dua Bujang Gadis, Harapan,1,2,3 Bujang dan Gadis, Bujang dan Gadis Persahabatan, Bujang dan Gadis Favorit, Bujang dan Gadis Berbakat serta Bujang dan Gadis Busana Terbaik.

Pada grand final tim juri telah melakukan penilaian secara ketat dan transparan di depan para pengunjung. Hingga akhirnya dewan juri menetapkan Hasan terpilih sebagai Bujang Bende Seguguk dan Tri Azizah Siti Salwa sebagai Gadis Bende Seguguk tahun 2016. 

Bupati OKI, Iskandar, SE mengatakan, sektor pariwisata telah mengambil peran penting dalam membangun perekonomian. Ini terwujud seiring dengan meningkatnya ekonomi bangsa bangsa di dunia yang semakin baik dan maju. Kemajuan dan kesejahteraan ekonomi semakin tinggi telah menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebutuhan gaya hidup manusia.

Menurutnya, kegiatan BGBS 2016 merupakan salah satu upaya yang diharapkan dapat menciptakan sumber daya manusia Kabupaten OKI yang berkualitas, memiliki wawasan dan kepekaan terhadap lingkungan. Serta mampu berdaya saing lokal, nasional maupun internasional dan sekaligus untuk meningkatkan peran generasi muda dalam menumbuhkembangkan, melestarikan budaya. Bupati berharap peserta yang terpilih menjadi BGBS 2016 dapat berperan aktif dalam mempromosikan potensi wisata Kabupaten OKI.



TERBAKARNYA WANUA SRIWIJAYA DI LAHAN GAMBUT SUMATERA SELATAN

Tim Balai Arkeologi Palembang survei di Situs Kanal 12 Ulak Kedondong. Foto: Nurhadi Rangkuti
Terbakarnya hutan dan lahan gambut Sumatera Selatan di 2015, ternyata berdampak pada keberadaan situs-situs arkeologi. Indikatornya seperti penemuan lokasi situs Sriwijaya di Desa Ulak Kendodong, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Situs ini nyatanya ditemukan warga di lokasi gambut yang terbakar.

Fragmen gerabah dan keramik Tiongkok dari Situs Kanal 12. Foto: Nurhadi Rangkuti

Rabu (16/3/2016). Dipandu warga setempat saya bersama tim arkeologi dari Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan mengunjungi lokasi situs di lokasi kebakaran tahun 2015. Lokasi ini masuk dalam konsesi sebuah perusahaan hutan tanaman industri (HTI) di Distrik Sungai Ketupak, yang berdasarkan informasi luasnya sekitar 41.067,56 hektare .

Situs- situs yang terbakar terdapat pada tempat yang bernama Bukit Tengkorak, Pulau Pisang, dan Kanal 12. Saat di Kanal 12, setelah menelusuri kanal-kanal buatan dengan perahu mesin, terlihat sisa-sisa hutan akasia yang terbakar dan menjadi arang, di kiri-kanan kanal.

Lahan gambut seluas 50 hektare di Kanal 12 tersebut, kini tergenang air karena musim hujan. Terlihat gundukan-gundukan tanah bekas galian para pencari harta karun yang menyembul di antara genangan air. Arkeolog coba mengais gundukan yang ditinggal oleh para penggali harta karun itu.

Mereka meninggalkan pecahan-pecahan gerabah dan keramik kuno, fragmen-fragmen kaca impor, kepingan papan perahu kuno dan beberapa butir manik-manik kuno. Benda-benda yang tidak laku dijual itu dikumpulkan arkeolog untuk diidentifikasi lebih lanjut.

“Kebakaran tahun lalu telah menghanguskan semak-semak yang tinggi di sini. Bara api sampai ke bawah permukaan tanah sedalam 1-2 meter. Para penggali harta karun banyak menemukan guci-guci dan tiang-tiang kayu kuno yang hangus terbakar,” kata Renggo, warga Desa Cengal. Lebih lanjut ia menjelaskan ribuan tiang kayu kuno ditemukan di Kanal 12, Pulau Pinang, Bukit Tengkorak sampai ke wilayah Desa Jeruju.

Tiang-tiang kayu kuno bagian dari bangunan rumah panggung yang awet ribuan tahun dalam tanah rawa gambut. Para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Palembang telah mengidentifikasi umur tiang-tiang kayu di situs-situs lahan basah di Karangagung Tengah (Kabupaten Musi Banyuasin) kawasan Air Sugihan Kiri (Kabupaten Banyuasin) dan Air Sugihan Kanan (Kabupaten Ogan Komering Ilir). Tiang-tiang kayu dibuat dari pohon meranti dan ulin. Berdasarkan analisis carbon dating (C14) tiang-tiang kayu di kawasan situs tersebut berasal dari awal Masehi, jauh sebelum munculnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 di Palembang.

Prasasti Sriwijaya
Situs Kanal 12 di wilayah Ulak Kedondong menjadi lebih bermakna dengan ditemukannya prasasti pendek di masa Sriwijaya oleh penduduk. Kini prasasti tersebut diamankan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya di Jambi. Jenis tinggalan arkeologis lain yang sezaman dengan prasasti tersebut adalah keramik-keramik Tiongkok dari masa Dinasti Tang.

Diperkirakan, permukiman (wanua) masa Sriwijaya banyak terdapat di wilayah Kecamatan Cengal, antara lain di daerah aliran Sungai Lumpur yang meliputi Sungai Langipi, Sungai Ketupak, Sungai Serdang, Sungai Jeruju, sampai ke Sungai Pasir. Sungai-sungai tersebut saling terkait dan akhirnya bermuara di Selat Bangka.

“Ada kecenderungan perusahaan besar HTI dan sawit sengaja membendung dan menutup sungai-sungai yang berada di wilayah itu,” kata Renggo sambil menunjuk berbagai jejak sungai yang melewati Situs Kanal 12 Ulak Kedondong. Menurutnya, bekas sungai di situs itu berhubungan dengan Sungai Langipi (Lempipi) yang bermuara di Sungai Lumpur.

Bagi arkeolog, jaringan sungai di rawa gambut dari hulu sampai hilir perlu dilestarikan. Melalui pola aliran sungai dapat dicari situs-situs arkeologi dan pola sebarannya.Pada gilirannya, dapat direkonstruksi peradaban kuno di lahan basah, baik pada masa pra-Sriwijaya maupun pada masa kejayaan maritim Sriwijaya.
Sisa-sisa tiang rumah panggung dari kayu nibung. Foto: Balai Arkeologi Palembang

Terancamnya bukti peradaban Sriwijaya 
Terbakarnya wanua-wanua Sriwijaya di wilayah Kecamatan Cengal tersebut jelas mencemaskan. “Bukti-bukti peradaban maritim Sriwijaya tinggal menunggu waktu saja untuk musnah, jika kebakaran lahan gambut terus terjadi,” kata Dr. Yenrizal, Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah Palembang, saat berbincang dengan saya, Minggu (20/03/2016).

Badan Restorasi Gambut yang dibentuk Presiden Jokowi dan program Desa Peduli Api (DPA) yang dicetuskan Gubernur Sumatera Selatan perlu menggunakan pendekatan budaya. Agar, situs-situs arkeologi yang juga cagar budaya, dilindungi sekaligus juga dimanfaatkan untuk edukasi kultural dan wisata budaya.





* Nurhadi Rangkuti. Arkeolog, mantan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Selatan. E-mail: nurhadirangkuti@yahoo.com - www.mongabay.co.id