Minggu, 24 September 2017

KISAH SAUDAGAR LINGKIS, BERBURU UNTUNG DENGAN KAPAL JUKUNG

Ada pemandangan menarik saat memasuki wilayah dua desa yang lokasinya memang bersebelahan. Sebagian besar rumah di Desa Lingkis dan beberapa rumah di Desa Batun Kecamatan Jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan rumah mewah berlantai dua yang tinggi menjulang ke langit.

Rumah rumah itu tampak mencolok dengan desain khas mediterania seperti di komplek rumah mewah di kawasan elit kota besar. Setiap rumah yang terlihat megah dan mewah di depannya selalu ada pagar besi yang kokoh tegak tertancap sebagai pembatas antara jalan dan rumah. Jumlah rumah mewah itu tidak banyak. Hanya berkisar belasan saja di dua desa tersebut.

Informasi yang dihimpun, rumah-rumah megah dan mewah itu sebagian besar milik Saudagar Kapal Jukung.

Siang itu usai mengikuti kunjungan kerja Bupati Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE melantik kepala desa terpilih di Kecamatan Jejawi saya ditemani beberapa orang rekan media melongok rumah rumah megah tersebut. Sebelum itu saya meminta izin kepada Kepala Desa (Kades) Lingkis Iwan Setiawan untuk ditemukan dengan salah satu saudagar tersebut. Kebetulan Kades Iwan merupakan mantan saudagar jukung yang kenyang pengalaman melaut. 

Kami diajak keliling kampung, melihat lihat rumah rumah megah.Selain milik Saudagar Jukung, rumah-rumah mewah itu juga milik warga yang bekerja sebagai petani.

Menurut Kades Iwan para saudagar jukung ini mengalami masa kejayaan pada tahun 80-an sampai 90-an. Sebab, harga bahan bakar dan ekonomi sangat stabil kala itu.

"Dulu mereka bisa dapat untung puluhan juta sekali bertarik (sekali angkut)" tutur Iwan.

Barang yang mereka angkut bermacam-macam mulai dari BBM hingga kebutuhan rumah tangga. Barang barang tersebut di beli di Palembang lalu dibawa berlayar ke wilayah pesisir seperti Air Sugihan, Sungai Lumpur, Sungsang hingga ke Selat Malaka. 

Dengan besarnya penghasilan itu, sebagian saudagar jukung bisa membangun rumahnya di kampung. Biaya yang dihabiskan rata-rata Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar.

Sambil bercerita kami dibawa Kades Iwan ke Sungai Komering yang melintasi Desa. Di atas sungai sudah berjejer puluhan kapal jukung bersandar belum lagi di anak-anak sungai di sekitarnya. Beberapa kali Kades Iwan tampak menelepon seseorang sambil terus mengarahkan mobil ke depan. Di ujung anak sungai yang melengkung kami berhenti. Kades Iwan mengajak kami turun menyusuri jalan setapak menuju sebuah Kapal Jukung Besar yang tertambat di pinggir sungai. Disamping kapal itu juga tertambat puluhan jukung lainnya. Ada yang berukuran besar, sedang dan kecil. 

Berbekal sebilah jembatan papan kami naik ke atas kapal jukung. Tampak seorang nahkoda dan beberapa anak buah kapal (ABK) memperbaiki mesin Truk PS 110 yang dimodifikasi jadi mesin kapal.

Kapal Jukung besar dengan kapasitas 100 ton itu milik Asnawi salah satu saudagar kapal jukung dari Desa Lingkis. Perawakannya kecil, kulitnya hitam karena sering tersengat matahari. Kapal Jukung milik Asnawi tidak hanya satu ini, satu unit lagi sedang dioperasikan adiknya di perairan Sungsang.

Sembari menyetel baut mesin kapal, Asnawi tampak semangat menerima kami di siang terik itu. Sejak 2003 menurutnya Kapal Jukungnya menggunakan tenaga mesin PS karena dinilai lebih bertenaga dan hemat waktu.

"Dulu pakai mesin diesel, jalannya lambat. Waktu tempuh bisa berhari-hari. Sekarang bisa lebih cepat dengan mesin PS hanya dalam hitungan 10 jam saja atau sehari semalam saja kalau perjalan jauh" tutur Asnawi.

Asnawi menceritakan kapal tersebut dia beli dari pengerajin di Industri kapal jukung Desa Kemang Bejalu, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin harga per unitnya mencapai 400 juta rupiah sudah termasuk mesin. Kapal itu terbuat dari kayu bungur. Hasil Produksi pengerajin dari daerah itu menurutnya lebih baik dari tempat lain karena kapalnya kuat. 

Ditanya sejak kapan menjadi melakoni profesinya ini, Asnawi mengatakan sudah sejak puluhan tahun lalu dan dilakukan secara turun menurun dari orangtua.

"Seingat saya sejak tamat SD (dulu SR). Karena saya tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah taunya jadi pelaut seperti ini" pungkasnya.

Menurut Asnawi kemampuannya berlayar menggunakan kapal Jukung didapat dari orang tuanya. 

Meski tanpa dilengkapi peralatan navigasi modern Asnawi mengaku terbiasa mengarungi laut dengan kapal jukungnya. 

"Kapal ini kan beda dengan kapal-kapal modern yang lengkap alatnya, jadi kita menggunakan insting saja" tuturnya.

Sebelum berlayar menurut Asnawi harus diperhatikan benar kondisi kapal harus benar benar dalam kondisi prima baik mesin ataupun baling-baling penggerak di bagian bawah kapal.

Salah satu Ilmu pelayaran yang dia pelajari dari orang tuanya secara turun temurun, yaitu membaca arah angin dan arus air. 

"Tiupan angin itu berbeda-beda menandakan kondisi cuaca dan besar gelombang dilaut demikian dengan arus sungai jika makin deras tandanya sedang pasang surut" tuturnya.

Asnawi mengatakan ilmu alam yang dia pelajari itu jadi modal dalam berlayar.

Alur pelayaran yang dia lalui antara lain dari Desa Lingkis menyusuri Sungai Komering menuju Muara Ogan keluar ke Sungai Musi lalu menuju ke laut melalui Muara Air Sugihan, Laut Sungsang, Sungai Lumpur, Selat Bangka hingga ke Selat Malaka. Berbulan bulan Kapal Jukung milik Asnawi ini melaut. 

Barang yang di bawa menurutnya bermacam-macam mulai dari BBM, sembako hingga air tawar bagi warga yang tinggal di pesisir timur OKI dan Banyuasin.

Sambil menarawang ke atas Asnawi mengingat masa kejayaannya bersama rekan rekannya Saudagar Kapal Jukung. Di tahun 80 sampai dengan 2000 an menurut Asnawi mereka adalah pemasok utama BBM untuk nelayan di pesisir timur Sumsel. 

BBM mereka dapat dari Depo Terapung di perairan Mariana dan sepanjang Sungai Musi lalu dijual kepada nelayan di laut. 

Keuntungannya menurutnya sangat besar hingga puluhan juta. Hasil Keuntungan itu mereka gunakan untuk membuat rumah membeli kebun dan kendaraan. 

Namun sejak 2001 menurutnya Pertamina menyetop penjualan BBM melalui kapal Jukung karena Alasan keamanan dan persediaan BBM yang ada telah minim. 

Menurut dia stasiun pengisian bahan bakar umum terapung di Palembang membatasi penjualan kepada mereka. Biasanya, selama ini satu jukung minimal mendapatkan sebanyak 120 drum atau 24.000 liter dalam sebulan dan langsung dijual ke kawasan perairan. Namun, sejak itu, paling banyak 60 drum. Akibatnya, harga BBM seperti minyak tanah di kawasan Transmigrasi Karang Agung, Sungai Lilin, Sungai Sembilang, dan Sungai Lumpur semakin tinggi ketimbang harga eceran tertinggi. 

Asnawi menjelaskan, akibat kondisi itu pendapatan para penjual minyak dengan kapal jukung juga mengalami penurunan drastis belum lagi faktor keamanan dan pungli. 

Meski demikian, hingga kini Asnawi dan sebagian warga lingkis lainnya tetap memilih mencari peruntungan di sektor jasa angkutan air ini. Angkutan mereka kini pupuk bersubsidi dari pemerintah untuk petani di Air Sugihan dan wilayah Banyuasin.

Hasil angkutan pupuk menurutnya memang tidak seberapa namun jasa ini tetap mereka jalani untuk memenuhi kebutuhan keluarga

"Kalau sekarang ya sekedarnya saja, yang penting kapal jalan ada ongkos BBM" pungkasnya.

Berharap Tuah Pelabuhan Samudra
Asnawi dan para penyedia jasa angkutan kapal Jukung asal Desa Lingkis dan Batun berharap banyak terkait rencana Bupati OKI yang mengusulkan berdirinya pelabuhan Samudra di Tanjung Tapa Air Sugihan. 

Asnawi tidak bisa membayangkan kemajuan sektor jasa yang mereka geluti itu jika proyek strategis itu terwujud. 

"Apa benar? Kapan bisa dimulai" pertanyaan Asnawi mencecar saya. Setelah memberi kesempatan kepada saya untuk menjelaskan agenda besar itu, Asnawi tampak sumringah.

Ia mengaku kembali bersemangat menekuni profesinya ini. Dia percaya jika ada investasi besar yang masuk ke wilayah pesisir timur OKI itu akan berdampak positif bagi usaha yang mereka geluti.

"Tidak usah muluk-muluk, kami siap angkut sembako dan kebutuhan para pekerja proyek dermaga Tanjung Tapa" Tutupnya.

Minggu, 17 September 2017

KAJANG, PERAHU RAKYAT SRIWIJAYA

Kajang, perahu tradisional khas Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ternyata menjadi sarana transportasi favorit masyarakat perairan, khususnya sungai, pada masa Kerajaan Sriwijaya. Hal itu disampaikan arkeolog dan peneliti Nurhadi Rangkuti ketika dikonfirmasi Simbur beberapa waktu lalu.

“Benar. Kajang jadi alat transportasi sungai zaman Sriwijaya. Saya pernah mendokumentasikan (hasil penelitian) tentang (perahu Kajang) itu. Sayang sekali mungkin sekarang (perahu Kajang) sudah punah, sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

Dalam buku Kehidupan Purba di Lahan Gambut yang disusun Bambang Budi Utomo pada 2015 mencantumkan artikel terkait jejak perahu Kajang sebagai transportasi rakyat pada masa Kerajaan Sriwijaya. Pemukiman Air Sugihan diduga sudah ada sejak abad I dan berlanjut sampai dengan abad XIII.

Sehubungan dengan itu, dalam artikelnya Nurhadi Rangkuti menulis bahwa budaya tungku keran dan perahu Kajang yang pernah eksis di wilayah perairan Kabupaten OKI adalah bukti bahwa wilayah tersebut berhubungan dengan migrasi orang Austronesia. Kemungkinan leluhur masyarakat OKI memiliki tradisi penjelajah bahari Austronesia yang berlanjut pada masa Kerajaan Sriwijaya di Pesisir Timur Sumatera.

Dilansir laman Kemendikbud, perahu kajang merupakan alat transportasi tradisional sekaligus menjadi rumah pada masa lampau bagi masyarakat di sekitar Sungai Musi. Diduga, alat transportasi tradisional ini berkembang sekitar masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi). Jenis perahu ini berasal dari daerah Kayuagung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pada masa lalu perahu kajang banyak dijumpai di Sungai Musi Palembang, tetapi sekarang sudah tidak dapat dijumpai lagi.

Perahu Kajang menggunakan atap dari nipah yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan atap yang disorong (kajang tarik), bagian tengah adalah atap yang tetap (kajang tetap) dan atap bagian belakang (tunjang karang). Bahan yang digunakan untuk pembuatan perahu ini adalah kayu jenis kayu rengas, yang sudah tidak ditemukan lagi di wilayah tersebut. Panjang perahu sekitar delapan meter dan lebar perahu dua meter. Buritan di bagian depan perahu terdapat tonjolan seperti kepala yang disebut selungku, merupakan ciri khas perahu Kajang.

Keberadaan atap (kajang) dari daun nipah inilah yang menjadi cikal namanya. Layaknya sebuah rumah tinggal, perahu memiliki ruang tengah tempat anggota keluarga beristirahat. Pada bagian belakang terdapat dapur dan kamar mandi. Barang-barang muatan serta ruang kemudi berada di bagian depan perahu. Tata ruang perahu terdiri dari bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Bagian depan merupakan ruang untuk menyimpan barang-barang komoditas yang dijual, seperti barang tembikar dan untuk kemudi. Bagian tengah adalah ruang keluarga untuk tempat tidur. Bagian belakang adalah kamar mandi dan dapur.

Perahu kajang memiliki dayung dan kemudi yang terbuat dari kayu. Panjang dayung sekitar tiga meter, sedangkan panjang kemudi sekitar dua meter. Dayung dibuat dari kayu yang lebih ringan, sedangkan kemudi dari kayu berat yang bagian tepinya diberi lempengan logam. Kemudi ditempatkan di bagian belakang, sedangkan dayung digunakan di bagian depan.

Ciri-ciri lain juga menunjukkan bahwa perahu ini merupakan tipe tradisi Asia Tenggara yaitu adanya lubang-lubang yang terdapat di bagian permukaan dan sisi papan serta lubang-lubang pada tonjolan segi empat yang menembus lubang di sisi papan, merupakan teknik rancang bangun perahu dengan teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sewn plank and lushed plug technique).

Tonjolan segi empat atau tambuku digunakan untuk mengikat papan-papan dan mengikat papan dengan gading-gading dengan menggunakan tali ijuk (Arrenga pinnata). Tali ijuk dimasukan pada lubang di tambuku. Pada salah lubang di bagian tepi papan perahu yang di temukan terlihat ujung pasak kayu yang patah masih terpaku di dalam lubang. Biasanya penggunaan pasak kayu untuk memperkuat ikatan tali ijuk.

Diperkirakan sejak masa awal atau proto Sriwijaya, perahu-perahu Kajang melaju di Sungai Komering, masuk ke Sungai Musi, dan lepas ke Selat Bangka, Laut Cina Selatan, hingga ke Laut Jawa. Selain membawa hasil bumi, Kajang juga membawa gerabah, seperti periuk yang terbuat dari tanah liat.

Sebaran perahu Kajang ditemukan di beberapa daerah di Malaysia, Vietnam, Jawa,dan Kalimantan. Saat Jakarta (Batavia) didirikan dan dibangun Belanda, ada pusat penjualan periuk dari daerah Kayuagung, kemudian daerah tersebut dinamai Tanjung Priok. Hingga masa awal kemerdekaan Indonesia, diduga masih ada pedagang dan duta dari Kabupaten OKI berlayar ke Singapura dengan perahu Kajang. Informasi yang dihimpun, sejak tahun 1980 perahu asli Kajang pun mulai hilang (DARI BERBAGAI SUMBER)

Rabu, 06 September 2017

TELUK CENGAL OKI JUGA DILALUI PELAUT PORTUGIS PADA 1513

Keterangan mengenai jalur pelayaran yang menyusuri garis pantai Teluk Cengal semakin menguatkan bahwa dilokasi tersebut pernah berdiri Bandar pelabuhan Sriwijaya. Peneliti Arkeologi Nurhadi Rangkuti mengatakan Teluk yang terlindung itu merupakan lokasi yang sering digunakan sebagai lokasi bandar pelabuhan. 

Melalui penelitiannya yang dipublikasikan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Rangkuti mengatakan keterangan penggunan jalur pantai timur itu diperoleh dari catatan-catatan Portugis abad ke-16-17. Catatan pelaut Portugis itu disebut dengan roteiros (buku-buku pemandu laut) yang berisi tentang catatan mengenai lautan Indonesia, terutama jalur pelayaran Selat Bangka dan pantai tenggara Sumatra. 

Menurut Rangkuti Jalur yang dilalui para pemandu Portugis adalah sepanjang pantai Sumatra yang berlumpur untuk menghindari karang-karang di sepanjang pantai Bangka. Roteiros juga dilengkapi juga dengan peta-peta. Peta-peta yang dibuat Francisco Rodrigues tahun 1513 dan Andre Persira Dos Reis tahun 1654 yang menunjukan pantai Sumatra tidak mengalami perubahan garis pantai yang berarti. 

Dipeta itu juga tergambar adanya Pulau Maspari oleh pelaut Portugis Pulau tersebut disebutLucipara. Teluknya digambarkan sebagai sebuah saluran yang disebut Canal de Lucipara. 

Teluk Cengal merupakan muara dari sungai diwilayah timur OKI antara lain Sungai Riding, Sungai Lebung Hitam, Sungai Lumpur, Sungai Jeruju dan Sungai Pasir. Dalam penelitinanya Rangkuti masih mempertanyakan Apakah Canal de Lucipara yang dimaksud adalah Sungai Lumpur? Karena Sungai tersebut merupakan sungai yang lebar dan menjadi lalu lintas perahu dan kapal dari Selat Bangka ke pedalaman teluk dan sebaliknya. yang sampai sekarang menjadi sungai yang ramai lalu lintasnya dari dan ke laut dan pedalaman dengan perahu bermotor.
Peta sketsa Selat Bangka berdasarkan Andre Persira Dos Reis tahun 1654 (dok. Manguin 1984)

Adanya penemuan arkeologi yang ditemukan di Teluk Cengal memberikan gambaran mengenai adanya pusat permukiman di Daerah Aliran Sungai Lumpur dan adanya aktivitas-aktivitas kemaritiman dengan ditemukannya perahu-perahu dan artefak-artefak impor dari Cina, India dan Persia. Pusat permukiman di lokasi tersebut diperkirakan sebagai kawasan bandar pelabuhan masa Sriwijaya yang diperkirakan dari abad ke 8 - 11 Masehi.

Sebelumnya Bupati Ogan Komering Ilir, H Iskandar SE melalui Kasubbag Media Komunikasi Publik Setda Pemkab OKI, Adiyanto SPd berharap pemerintah pusat dapat menetapkan kawasan Teluk Cengal sebagai cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional. Hal itu setelah dilakukannya investigasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Senin (4/9). 

Novi Hariputranto, ketua tim investigasi BPCB Jambi mengatakan, penemuan emas dan perunggu tersebut mengisyarakatkan bahwa benar ada pemukiman penduduk yang dulunya menempati wilayah Teluk Cengal. “Setidaknya ada pemukiman bangsawan dahulunya di sini jika melihat hasil temuan ini. Kalau keramik itu dari luar, kalau gerabah itu dalam negeri. Ada jalur transaksi perdagangan di wilayah ini dahulu kala,” ungkapnya. 

BANDAR SRIWIJAYA, POTENSI CAGAR BUDAYA NASIONAL DAN INTERNASIONAL

Bupati Ogan Komering Ilir, H Iskandar SE melalui Kasubbag Media Komunikasi Publik Setda Pemkab OKI, Adiyanto SPd berharap pemerintah pusat dapat menetapkan kawasan Teluk Cengal sebagai cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional. Hal itu setelah dilakukannya investigasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Senin (4/9).

“Tim (BPCB) Jambi melihat sendiri penemuan benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Teluk Cengal. Mereka segera melaporkan (hasil investigasi) kepada pimpinannya (untuk diteruskan ke pemerintah pusat). Ke depan ada tim lain yang akan menindaklanjuti lokasi bandar (pelabuhan) Kerajaan Sriwijaya,” ungkapnya, Selasa (5/9).

Menurutnya, masyarakat OKI menunggu arahan dari pemerintah pusat untuk menindaklanjuti agar ada pelindungan terhadap situs-situs di kawasan tersebut. Mengingat di lokasi tersebut banyak peninggalan arkeologis yang rusak dan hilang akibat kebakaran hutan dan lahan, penggalian liar, serta digunakannya lahan situs untuk perkebunan monokultur. “Kami (Pemkab OKI) siap jika kawasan Teluk Celuk dijadikan sebagai salah satu cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Novi Hariputranto, ketua tim investigasi BPCB Jambi mengatakan, penemuan emas dan perunggu tersebut mengisyarakatkan bahwa benar ada pemukiman penduduk yang dulunya menempati wilayah Teluk Cengal. “Setidaknya ada pemukiman bangsawan dahulunya di sini jika melihat hasil temuan ini. Kalau keramik itu dari luar, kalau gerabah itu dalam negeri. Ada jalur transaksi perdagangan di wilayah ini dahulu kala,” ungkapnya.

Diketahui, tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI) turun ke lokasi yang diduga sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sriwijaya di Cengal, Senin (4/9). Tim BPCB Jambi terdiri dari tiga orang, yakni Novi Hari Putranto SS, Tarida Diami SS, dan Muchlisin,SPd. Mereka masih kelelahan setelah menempuh perjalanan hingga 6 jam dari Jambi menuju Kayuagung. Tim investigasi juga didampingi Kasubbag Media Komunikasi Publik Adiyanto SPd, Kepala Dinas Pariwisata OKI Ifna Nurlela, Kabid Kebudayaan Nila Maryati.

Tim berangkat dari Kayuagung menuju Cengal tepat pukul 7.15 WIB. Perjalanan darat menuju Cengal membutuhkan waktu hingga tiga jam. Waktu ini relatif lebih cepat seiring sudah diperbaikainya ruas jalan Sepucuk sepanjang 38 km yang menghubungkan Kayuagung dengan Pedamaran Timur membelah hamparan lahan gambut. Perjalanan mulai terasa berat ketika melewati Jembatan Desa Kayulabu Kecamatan Pedamaran Timur

TIM PENELITI UJI KEBENARAN BANDAR SRIWIJAYA

Hasil riset terkait penemuan pelabuhan utama Kerajaan Sriwijaya di Teluk Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikabarkan telah sampai ke lingkungan Istana Presiden. Karena itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (Kemendikbud) RI memerintahkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi untuk melakukan investigasi di lokasi tersebut.

Dikabarkan, tim BPCB Jambi yang memayungi wilayah Sumbagsel dan Babel segera melakukan investigasi ke Teluk Cengal pada Senin (4/9/2017). Informasi tersebut disampaikan Kasubbag Media Komunikasi Publik Setda Pemkab OKI, Adiyanto SPd. “Hari ini (Minggu) tim (BPCB) sedang dalam perjalanan dari Jambi ke Kayuagung. Besok (Senin) mereka akan ke lokasi,” ungkap Adiyanto, Minggu (3/9/2017).
Hingga berita ini diturunkan, Kepala BPCB Jambi, Drs Muhammad Ramli belum bisa dihubungi dan dikonfirmasi. “Soalnya mereka pernah bilang jangan dulu diekspos sebelum tiba di lokasi (Cengal),” ungkap Adi sembari mengatakan, Pemkab OKI melalui Dinas Pariwisata dan Budaya siap mendampingi tim investigasi.

Sebagaimana hasil penelitian Nurhadi Rangkuti dari Balai Arkeologi DI Yogyakarta, bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya tersebar di lahan gambut sekitar Teluk Cengal, OKI. Kebakaran hutan dan lahan gambut pada 2015 lalu diduga telah mengikis bukti kerajaan maritim terbesar di Asia itu. Diharapkan, pemerintah dan masyarakat harus menggunakan pendekatan budaya dalam mengatasi karhutla agar dapat menyelamatkan aset cagar budaya dan bukti-bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

PELABUHAN UTAMA KERAJAAN SRIWIJAYA DI OGAN KOMERING ILIR

Sebagai negara maritim terbesar di Asia, Kerajaan Sriwijaya memiliki banyak bandar (kota pelabuhan). Akan tetapi, pelabuhan utama Kerajaan Sriwijaya ternyata berlokasi di Teluk Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). 

“Itu sesuai hasil penelitian terbaru dari arkeolog. Teluk Cengal adalah lokasi ditemukannya pelabuhan utama Kerajaan Sriwijaya,” ungkap Bupati Ogan Komering Ilir H Iskandar SE melalui Kasubbag Media Komunikasi Publik Setda Pemkab OKI, Adiyanto SPd, kepada Simbur, Selasa (29/8). 

Dijelaskannya, lokasi bandar Sriwijaya yang terletak di Teluk Cengal itu berada di Selat Malaka. Lokasi tersebut berhubungan dengan kawasan Tanjung Tapa di Kecamatan Air Sugihan. 

“Sangat wajar apabila Tanjung Tapa di Air Sugihan berpotensi menjadi pelabuhan samudera menggantikan Tanjung Api-Api atau Tanjung Carat,” terangnya tadi malam. 

Diketahui, Teluk Cengal OKI sebagai lokasi bandar Kerajaan Sriwijaya telah diteliti oleh Nurhadi Rangkuti, Balai Arkeolog DI Yogyakarta. Hasil penelitiannya pertama kali dipublikasikan saat Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) XIV, 24-27 Juli 2017 di Bogor, Jawa Barat. Karya ilmiah tersebut juga diunggah ke laman portal Dirjen Kebudayaan Kemdikbud pada 9 Agustus 2017. 

Menurut Rangkuti, pesisir tenggara Sumatera (Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan) kaya dengan bukti-bukti arkeologis masa Sriwijaya di Sumatera (7–13 M). Diuraikannya, hal yang menarik di lahan basah pesisir Teluk Cengal terdapat situs-situs arkeologi proto Sriwijaya atau dikenal dengan istilah situs pra Sriwijaya. 

Salah satu lokasi situs yang penting untuk dikaji lebih lanjut adalah situs-situs yang terdapat di Desa Ulak Kedondong dan sekitarnya di daerah aliran Sungai Lumpur di Kecamatan Cengal. Kawasan Teluk Cengal memiliki potensi yang besar sebagai lokasi pelabuhan antara, ditinjau dari posisi kawasan itu yang berada di persimpangan jalur maritim antara Selat Bangka, Laut Jawa dan Selat Sunda. 

Berperan sebagai entreport atau pelabuhan utama di Asia Tenggara, dengan mendapatkan restu, persetujuan, dan perlindung.

Rabu, 28 Juni 2017

MIDANG BEBUKE WARISAN BUDAYA YANG TERUS DILESTARIKAN

Kabupaten OKI memiliki beragam wisata budaya, salah satunya midang bebuke. Midang merupakan kegiatan arak-arakan atau lebih mirip karnaval, yang setiap tahun mejadi jadwal rutin, setiap idul fitri dan telah menjadi agenda wisata nasional. Midang tahun 2017 ini dilaksanakan selama 2 hari yaini selasa dan rabu (27, 28/06/17).

Pawai midang ini disaksikan oleh Bupati OKI Iskandar SE didampingi oleh Ketua TP PKK OKI Lindasari Iskandar, serta Tokoh Budaya dan masyarakat.


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI, H. Amirudin, S. Sos, M.Si menjelaskan midang ini diikuti 11 kelurahan dan midang ini merupakan acara budaya dan adat, dan midang ini juga menjadi event pariwisata nasional yang artinya midang ini sendiri bukan hanya milik kabupaten OKI

Bupati OKI Iskandar SE mengatakan, bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten OKI sangat konsen mendukung tradisi midang sebagai warisan tradisi budaya leluhur yang merupakan aset budaya yang sangat diperhatikan disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI.


Jumat, 24 Maret 2017

KAIN KHAS KAYUAGUNG

sarung curak asli lurik kain kiyagung 1.cumpuk kipas 2 bunge kayu
Daerah Kayuagung menyimpan bentuk bentuk lurik kain khas yangg dulu sering dijadikan pakaian . Terutama kain sarung KAUM WANITA,.adapun lurik yang populer dpenghujung abd 18 antara 1892 sampai 1907 lurik yang dikenal antarnya :
  1. Lurik Bunge Kelipuk Jaring Punyu
  2. Lurik Bunge Payi
  3. Lurik Simbar Rumpun Kecubung
  4. Lurik Seluang Mayok
  5. Lurik Kalibangbang Waktawak
sarung putungan kiyagung


Sumber : Budayawan Yus Lizal

GERABAH KHAS KAYUAGUNG

Kenapa Bentuk/Tekstur Gerabah Kayuagung tidak berkembang, ke gaya modern mengenai bentuk dan teksturnya? Hal ini dikarenakan alasan yang sangat mendasar,karena keterkaitannya dengan nilai filosofisnya. Bahwa bentuk,bahan dan nama setiap jenis grabah dimaksud memiliki filosofis tersendiri.

Dengan alasan inilah maka bahan, cara membuat dan bentuknya tidak bisa di rekayasa sesuai perkembangan zaman. Sah-sah saja untuk membentuk motif/desain lain, namun karya pembaharuan itu tidak bisa di kategorikan sebagai khas gerabah kayuagung.

Bahan dan alat manual pembuatan grabah kayuagung, dari tanah liat dan pasir halus menjadi : Kowan, Anglu, Tungku, Singkup, Ponai, Cibik, Gontung, Pasu, Belange, Perondangan, Kibuk, Clingan dan Beragam Mainan Anak....



Lestarimu Lestari Peraban Leluhurmu











Sumber : Budayawan Yus Lizal

Minggu, 05 Februari 2017

POTENSI WISATA DANAU TELOKO KAYUAGUNG

Bupati OKI, H. Iskandar, SE mengunjungi Danau Teloko di Desa Teloko Kecamatan Kota Kayuagung, Sabtu, (4/2). Orang nomor satu di Bumi Bende Seguguk ini terpesona melihat keindahan alam di Danau ini. Iskandar mengatakan Danau Teloko berpotensi dikembangkan menjadi Desa Wisata untuk meningkatan pendapatan masyarakat setempat.

“Desa wisata itu konsep pengembangannya adalah kepariwisataan berbasis masyarakat. Wisata alam, wisata agro, seni dan budaya. Teloko ini kita lihat memiliki potensi tinggi dibidang wisata air. Viewnya bagus ditambah potensi perikanan yang ada” pungkas Iskandar.

Pengembangan desa wisata menurut Iskandar bisa terealisasi karena Sektor pariwisata saat ini tengah dikembangkan menjadi salah satu ‘tulang punggung’ perekonomian Indonesia.

“Potensinya cukup besar, Kita akan ajak pihak swasta agar ikut berperan aktif melakukan pendampingan kepada kelompok masyarakat di desa wisata untuk dapat lebih mengembangkan potensinya” Ungkap Iskandar.

Bupati berharap kedepan lokasi ini akan dikelola dengan baik. Mulai dari penyediaan sarana dan prasarana, rumah makan, home stay, lokasi parkir, dan lainnya.

Kabupaten OKI sendiri memiliki banyak potensi dibidang wisata air. Selain Pantai Maspari dan Tanjung Menjangan serta kawasan Kota lama di pinggiran Sungai Komering, satu lagi potensi wisata di wilayah ini, yaitu Danau Teloko atau yang dikenal dengan warga setempat dengan Lebak Teloko.

Danau Teloko terletak di Desa Teloko, Kecamatan Kota Kayuagung. Menuju ke Danau ini pun tidak jauh. Kurang dari setengah jam dari pusat Kota Kayuagung. Menuju ke lokasi danau, pengunjung harus naik sampan bermuatan 3 sampai dengan 5 orang. Bersampan mengarungi lebak tentu akan menjadi pengalaman unik. Kurang lebih 15 menit, pengunjung akan sampai ke Danau teloko. Danau Teloko sendiri memiliki hamparan kurang lebih seluas 500 ha. Uniknya, ditengah-tengah danau terdapat pulau terapung yang ditumbuhi pepohonan perdu.

Camat Kota Kayuagung, Dedy Kurniawan, S. STP menjelaskan potensi danau ini sudah lama dimanfaatkan masyarakat selain sumberdaya perikanannya, air danau yang tidak pernah mengering di manfaatkan jadi sumber air bersih oleh PDAM Tirta Agung.

“Sejauh ini Danau Teloko sangat bermanfaat untuk masyarakat. Potensi ini akan kita kembangkan lagi agar menjadi potensi wisata baru di Kecamatan Kota Kayuagung” Ungkap Dedy.

Potensi danau teloko ini menurut Dedy bisa beriringan dengan pengembangan wisata air Sungai Komering.

“Kedepan kita bisa jual paket wisata desa misalnya adventure ke danau teloko dari kawasan kota lama Sungai Komering. Tentu itu akan mengundang daya tarik wisata serta melibatkan banyak sektor juga agar menggugah masyarakat mencintai Sungai Komering dan danau teloko itu sendiri” Pungkas Camat penuh inovasi ini.

Potensi ekonomi itu, menurut Dedy akan di kelola oleh desa melalui BUMDES sehingga bisa menjadi pendapatan desa.

“Kita dorong desa mampu menggali potensi yang mereka miliki untuk kesejahteraan masyarakatnya” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten OKI, H. Amirudin, S. Sos mengatakan Danau Teloko sebelumnya sudah masuk dalam Rencana Strategis Pengembangan Pariwisata Kabupaten OKI tahun 2013 dan telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten OKI namun pengelolaannya belum maksimal.

“Ke depan kita buatkan DED untuk pengembangan wisata danau teloko ini agar menjadi destinasi wisata baru dengan konsep desa wisata. Apa lagi posisinya mudah dijangkau. Dalam jangka pendek kita serahkan ke desa agar menjadi sumber pendapatan bagi dan dikelola BUMDES setempat” Ungkap Amir.

Senin, 21 November 2016

PENGERAJIN PENGILAR IKAN DI PAMANGAN

Kegiatan menangkap ikan sudah dimulai sejak zaman dahulu. Seiring perkembangan zaman, alat penangkap ikan seperti kail pancing, tombak, jala, dan perangkap ikan pun mulai digunakan. Di kalangan masyarakat Melayu khususnya Kabupaten Ogan Komering Ilir, ada perangkap ikan tradisional yang masih digunakan hingga kini yaitu Pengilar.

Alat tangkap pengilar termasuk dalam alat tangkap jenis perangkap. Pengilar memiliki nama lain yaitu sengkirai atau juga disebut kempek. Alat tangkap model perangkap ini merupakan alat yang banyak digunakan masyarakat di daerah pingiran sungai dan daerah rawa.

Alat tangkap ini menjadi alat tangkap yang banyak digunakan karena memiliki berbagai kemudahan yang disukai masyarakan nelayan pada umumnya. diantaranya alat tangkap pengilar ini adalah awet (tahan lama), mudah digunakan karena hanya tinggal menaruhnya di tempat-tempat yang tergenang air, hasil yang didapatkan juga cukup banyak dan berfariasi, umpan dapat diganti-ganti sesuai dengan yang diinginkan, dan faktor lain adalah harganya murah (di pasar satu set alat pengilar hanya sekitar Rp. 16,000 saja).

Bapak Salimin (70 tahun) warga Desa Ulak Depati, Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, masih membuat pengilar untuk menambah pendatapan ekonomi keluarganya.

Bapak empat anak ini selain bekerja sebagai petani, juga mencari nafkah dengan membuat pengilar (bubu alat penangkap ikan). Menganyam pengilar telah dilakukannya sejak tahun 1970. Pengilar yang dibuatnya berasal dari anyaman bilah bamboo yang bentuknya hampir seperti bubu yang terubat dari kawat untuk menangkap ikan.

Untuk bahan bakunya, seperti bambu Bapak Salimin membeli di Desa Secondong, Pampangan. Termasuk rotan dan tali untuk menganyam. Dalam seminggu biasanya Bapak Salimin dapat menghasilkan 100 pengilar. Untuk harganya setiap satu pengilar dihargai Rp16ribu. “Kalau untungnya bisa mencapai sekitar 2 juta perbulan,” 

Sedangkan pemasarannya biasanya dijual kepada warga yang datang dari Palembang, dan beberapa daerah yang ada di Sumsel. Bahkan warga Jambi juga sering datang untuk membeli pengilar yang dibuatnya tersebut. 

Di Desa Ulak Depati Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir, masih kita jumpai pengerajin atau pembuat pengilar ini. Walaupun tinggal beberpa pengerajin yang masih eksis, dan tidak banyak seperti dulu.

Selain dirinya ada beberapa warga lain juga di Desa Ulak Depati yang membuat pengilar tersebut. Walaupun bukan sebagai pencaharian utama, namun dengan membuat pengilar ini bisa membantu perekonomian keluarganya. Dirinya juga berharap agar mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, seperti modal maupun pembinaan.

Jumat, 18 November 2016

KERBAU PAMPANGAN MERUPAKAN 7 RUMPUN KERBAU ASLI INDONESIA

Dalam rangka Bulan Bakti Peternakan Nasional Dinas Peternakan Kabupaten OKI mengadakan Kontes Kerbau “Bubapati Cup” 2016, yang diadakan di Kecamatan Pampangan Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan kontes kerbau yang pertama di Sumsel. Rabu (28/09/16) Desa Pampangan Kec. Pampangan OKI. 

Kontes Kerbau ini dihadiri Bupati OKI dalam hal ini yang diwakili Wakil Bupati Ogan Komering M. Rifa’I SE, Forkopimda OKI, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Kasi Produksi Sapid an Kerbau, Kepala BPTU-HPT Sembawa, Kepala BPTP Sumsel, Sekda H. Husin S.PD M.Si, FKPD, SKPD, Camat Pampangan, Kelapa Desa se-Kecamatan Pampangan, Para Juri, Para Pserta Kontes Kerbau, Toko Masyarakat dan Masyarakat Pampangan. 

Acara Kontes Kerbau ini juga diisi dengan stand pasar budidaya kerbau dan Pemberian bantuan kepada kelompok Tani Berupa “Alat Tulis Kantor printer pengolahan data recorder, Obat-Obatan dan Vitamin Kepada 10 Kelompok Tani, Laptop Kepada 4 Kelompok Tani, Kerbau 3 Kelompok Tani, Sapi 2 Kelompok Tani, Kambing 3 Kelompok Tani, Itik 2 Kelompok Tani, Chopper 4 Kelompok Tani dan Perahu Kepada 2 Kelompok Tani. 

Kepala Dinas Peternakan OKI Haris Panani SP MSi dalam laporanya mengatakan “Kontes Kerbau di pulau pematang dadu desa pampangan ini adalah satu-satunya kontes kerbau di Sumsel, sesuai keputusan menteri pertanian tahun 2013 Sumsel ditetapkan Plasma Nutpa/ keturunan asli kerbau pampangan, satu dari 7 kerbau asli dari Indonesia.” 

“Yang menjadi tujuan dan harapan kontes kerbau pampangan ini, memberikan apresiasi dan motivasi kepada masyarakat dalam pelestarian kerbau pampangan, sebagai bahan seleksi layak bibit kerbau baik penjantan ataupun betina yang berkwalitas, agar kerbau pampangan lebih dikenal dan menjadi salah satu Icon kabupaten Ogan komering Ilir dan juga dapat dimasukan pada kalender wisata/destinasi wisata OKI, dengan momentum ini juga semoga dapat dijadikan salah satu pembangkit perekonomian, melalui ternak, Lanjutnya”. 

Berbagai upaya telah dilakukan, bahkan dalam melestarikan kerbau pampangan, dinas Peternakan Kab OKI telah bekerjasama dengan pemerintah pusat (Dalam hal ini Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Dinas Peternakan Provinsi Sumsel, BPTU-HPT Sembawa, BPTP Sumsel, Serta Bekerjasama dengan Universitas Sriwijaya), Terangnya.” 

Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Kasi Ir Mirta Birawan mengatakan “Kerbau adalah usaha yang kurang diminati atau kurang menguntungkan, hal ini dikarenakan pembibitan memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar, jadi memang banyak yang tidak tertarik, tidak hanya pada kerbau tetapi sapi juga karena prosesnya panjang, membutuhkan waktu 2 tahun 10 bulan. Tetapi jika para peternak kita teliti dan telaten dalam sangat menghargai dengan tenang dan sangat senang dengan sejarahnya, mengingat hal tersebut maka kegiatan penguatan pembinaan dikabupaten tersebut maka akan menjadi kegiatan yang berkesinambungan, jadi memang butuh waktu yang panjang dan pendaannya perlu dari APBN.” 

“Untuk itu saya perlu menyampaikan bahwa dukungan pelaksanaan dari APBD Kabupaten maupun Provinsi sangat diperlukan, untuk keberlanjutan kegiatan ini dalam rangka terbentuknya suatu wialayah sebagai sumber bibit, Terangnya.” 

“Kegiatan ini bukan hanya untuk melestarikan ternak asli atau lokal tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk meningkatkan peternakan kerbau, Harapnya” 

Wakil Bupati OKI M. Rifa’I SE mengatakan “Kerbau pampangan adalah salah satu dari 7 rumpun kerbau di indonesia. Kepada para peserta lomba saya ucapkan selamat disertai harapan agar dapat menjadi contoh bagi peternak yang lain, serta bisa lebih baik lagi, bagi yang belum juara janganlah berkecil hati, belajarlah dari para pemenang, carilah strategi agar kedapan mampu menjadi juara demi peternak serta pelestari ternak kerbau pampangan.” 

M. Rifa’I SE berharap “Pemerintah daerah maupun pusat dapat memperhatikan pelestarian kerbau pampangan ini agar terus berjalan. 

Adapun Pemenang Kontes Kerbau Pampangan Piala Bupati OKI tahun 2016. 
Kategori Kerbau Jantan Penarik Gerobak : 
  1. Juara Harapan I nilai 49,2 atas nama Subhan asal Desa Sungutan Air Besar Kec. Pangkalan Lampam 
  2. Juara III nilai 50,6 atas nama Daman asal Desa Pulawan Kec. Pangkalan Lampam 
  3. Juara II nilai 50,8 atas nama Sanadi asal Desa Lebung Batang Kec. Pangakalan Lampam 
  4. Juara I nilai 51,6 atas nama Rasyid asal Desa Pulau Betung Kec. Pampangan 

Kategori Kerbau Jantan 
  1. Juara harapan I nila 50,0 atas nama Sarkowi asal Desa Pulau Layang Kec. Pampangan 
  2. Juara III nilai 50,1 atas nama Hemi asal Desa Kuro Kec. Pampangan 
  3. Juara II nilai 50,8 atas nama Yani asal Desa Kuro Kec. Pampangan 
  4. Juara I nilai 51,6 atas nama M. Ali asal Desa Pulau Betung Kec. Pampangan 

Kategori Kerbau Betina 
  1. Juara harapan I nilai 50,0 atas nama Hengki asal Desa Pulau Layang Kec. Pampangan 
  2. Juara III nilai 50,1 atas nama Komri asal Desa Pulau Layang Kec. Pampangan 
  3. Juara II nilai 50,8 atas nama Nimoi asal Desa Pampangan Kec. Pampangan 
  4. Juara I nilai 51,6 atas nama Muhammad asal Desa Bangsal Kec. Pampangan