BREAKING NEWS

Taman Prof DR Amri Yahya (Taman Segi Tiga Emas) Kayuagung

Selamat Datang Di Kota Kayuagung

Biduk Kajang

Taman Prof DR Amri Yahya

Tradisi Midang Morgesiwe

Learn more

Kayuagung Gilderic

CERITA RAKYAT

Cerita Rakyat

Wista & Budaya

Jalan jalan

Galeri

TRADISI MIDANG MORGE SIWE 2016 ADA YANG BERBEDA

Selain memiliki banyak tempat wisata, Kabupaten OKI juga memiliki beragam wisata budaya, salah satunya midang. Midang merupakan kegiatan arak-arakan atau lebih mirip karnaval, yang setiap tahun mejadi jadwal rutin, setiap idul fitri akan dilaksankan midang. Midang tahun 2016 ini dilaksanakan selama 2 hari yaini Jumat dan Sabtu (8-9/07/16) atau lebaran ke 3 idul fitri dan lebaran ke 4 idul fitri.


Camat Kota Kayuagung Dedy Kurniawan SSTP menyampaikan midang tahun ini tetap dilaksanakan pada lebaran ketiga dan hari keempat, namun ada perbedaan tahun ini ada dua jenis pakaian yg akan digunakan oleh kelurahan dan ini sudah ditentukan oleh lembaga adat beberapa waktu yg lalu. “Ada pakaian adat ada pakaian nasional, contohnya kelurahan kedaton akan menggunakan pakaian nasional, maksud dari pembedaan ini agar pelaksanaan midang kali ini lebih meriah dan ada perbedaan namun tentu saja tidak akan menghilangkan esensi dari Midang tersebut”, jelas Camat Kota Kayuagung. 


Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI, H. Amirudin, S. Sos, M. Si menjelaskan midang ini diikuti 11 kelurahan dan 11 kelurahan ini di bagi menjadi 2, 6 kelurahan di hari ke 3 idul fitri dan 5 kelurahan di hari ke 4 idul fitri. 


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI menambahkan untuk midang tahun ini di hari pertama 3 kelurahan midang muda mudi kemudian 3 kelurahan berikutnya midang yang biasa dilakukan setiap tahun nya memakai pakaian adat, perangkat kelurahan dan sebagainya, tetapi 3 kelurahan yang muda mudi itu khusus muda mudi semua dan tetap di barisan terdepan harus ada pengantin. Dan untuk hari ke 2 atau lebaran ke 4 ada 2 kelurahan yang memakai pakaian adat seperti tahun –tahun yang kemarin dan 3 kelurahan khusus muda mudi. 


Lebih lanjutkan H. Amirudin, S. Sos, M. Si mengatakan bahwa Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel sangat tertarik dengan kegiatan midang ini, karena midang ini merupakan acara budaya dan adat, sehingga rencana kedepan akan di kaloborasikan dengan kegiatan di Provinsi , seperti pagi kegiatan Provinsi dan di siang harinya kegiatan midang.

PENGURUS SANGGAR SENI BENDE SEGUGUK 2016 - 2021 DIKUKUHKAN

Bertempat di halaman Gor Biduk Kajang telah dilaksanakan Pengukuhan Pengurus Sangar Seni Bende Seguguk Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Komering Ilir periode 2016-2021, Selasa (19/04/16). 

Pengukuhan Sangar Seni Bende Seguguk Dihadiri oleh Wakil Bupati OKI M. Rafai SE, FKPD, SKPD, dan para pelaku Seni serta Pemuda, Wakil Bupati OKI M. Rafai SE mengukuhkan dan Melantik Kepengurusan Sangar Seni Bende Seguguk Periode 2016-2021. 

Dalam Sambutannya M. Rifai SE Menyampaikan, ”Keberadaan Sangar Bende Seguguk Harus Menjadi Penghimpun seluruh Potensi kesenian yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir ini, Sangar Seni Bende Seguguk diharpakan dapat membina minat dan bakat para pekerja seni melalui kerja sama dengan unsur terkait, terus bekerja lebih keras lagi untuk mengalih asset daerah agar kesnian daerah semakin dikenal dan di apresiasi masyarakat luas. 

Dalam Pengukuhan Sangar Seni Bende Seguguk ini di tampilkan Tarian dari Sangar Seni Bende Seguguk, Menurut Ketua Harian Sangar Seni Bende Seguguk Ricard Arg,”Denga adanya wadah seni ini potensi dan bakat kesenian anak-anak dan remaja di Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat di gali dan disalurkan”. 

Richard Arg juga mengaharapkan para pemuda di Kab OKI mencintai seni dan budaya Indonesia khsusnya Kabuipaten OKI, dan kedepan akan melakukan pembinaan dari usia dini di Sangar Seni Bende Seguguk.

TARI PENGUTON DARI KABUPATEN OKI SAMBUT KEDATANGAN MENTERI PARIWISATA

Menteri Pariwisata Arief Yahya disambut Tari Penguton ketika mendarat di Bandar Udara Sultan Mahmud Baddarudin II Palembang dalam rangka kunjungan kerjanya ke ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (12/4) di Executive Room Bandara SMB II. 

Dalam kesempatan ini, Tari Penguton yang merupakan tarian asli daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dipercaya untuk memberikan penghormatan kepada tamu kenegaraan ataupun tamu kedinasan, terlihat anggun bersahaja dengan gerak tari yang luwes dalam balutan pakaian khas tari Penguton yakni, terdiri dari baju kurung bludru tabur, kain songket, selendang songket, asesoris kepala beringin, cempako, mahkota paksangkok, dan asesoris lainnya, serta properti tepak (tempat sekapur sirih), pridon, tombak dan payung kebesaran. 

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Amiruddin SSos MSi kepada wartawan mengatakan, penampilan Tari Penguton dalam menyambut rombongan Menteri Pariwisata ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan budaya daerah yang ada di Kabupaten OKI kepada masyarakat luas. 

“Pagelaran tarian atau kebudayaan dari Bumi Bende Seguguk lainnya, dalam berbagai kesempatan, merupakan cara mempromosikan potensi pariwisata dan budaya, sehingga masyarakat luas pun mengetahui apa saja budaya dari daerah Kabupaten OKI,” kata Amiruddin. 

Ditambahkan Amiruddin, tarian penyambutan tamu ini digelar dengan formasi 9 orang yang berasal dari Sanggar Bende Seguguk yang diasuh oleh Lindasari Iskandar. “Dalam penyambutan ini, selain menampilkan tarian Penguton, Disbudpar OKI juga menyiapkan pamflet tentang Tari Penguton secara detailnya,” tutur Amiruddin yang memiliki ciri khas senyum manisnya. 

Seperti yang diketahui, Tari Penguton adalah tari adat Ogan Komering Ilir, yang dalam pelaksanaannya merupakan unsur yang menyatu dengan adat penyambutan tamu. Hal ini sesuai dengan namaya yang berasal dari bahasa Kayuagung “Uton”, berarti penyambutan. 

Tari memiliki sifat resmi dan tercatat dalam naskah tua kayuagung seperti panda kitbag hokum adat dan pediment hokum adat elite yang debut oleh Poyang Setiaraja dan dibantu jurutulisnya Setiabanding Sugih. 

Jumlah penarinya ada sembilan orang “Morge Siwe”. Tari ini diyakini termasuk cikal bakal tari-tarian yang ada didaerah-daerah Sumatera Selatan (Khususnya Tari Gending Sriwijaya). 

Dengan menggunakan iringan musik perkusi seperti gamelan, gong, gendang yang sebagian instrumen tersebut merupakan hadiah dari Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 dibawa oleh utusan Patih Gajah Mada. 

Tari Penguton dari sejarahnya, tarian ini lahir pada tahun 1889 dan pada tahun 1920, oleh keluarga Pangeran Bakri, tarian ini disempurnakan untuk penyambutan kedatangan Gubernur Jendral Hindia-Belanda Gouverneur General Limberg Van Stirem Bets. Sejak itu tarian ini dijadikan sebagai tari sekapur sirih khas dari Kayuagung. (dob)

BGBS 2016 BISA PROMOSIKAN WISATA DAN BUDAYA KABUPATEN OKI

Bupati Ogan Komering Ilir, Iskandar, SE meminta seluruh finalis Bujang dan Gadis Bende Seguguk (BGBS) Kabupaten OKI tahun 2016 untuk membantu pemerintah mempromosika npotensi Kabupaten OKI.

"Saya ingin Bujang dan Gadis ini tau apa yang dapat mereka lakukan untuk Ogan Komering Ilir. Selain itu bantu kami untuk mempromosikan Kabupaten Ogan Komering Ilir agar semakin banyak investasi dan orang berkunjung ke Kabupaten ini," ujar Iskandar pada malam grand Final pemilihan bujang dan gadis Bende Seguguk (BGBS) di pendopo Kabupatenan, Rabu, (30/3) malam.

Iskandar juga meminta para bujang dan gadis ini mencintai Kabupatennya serta mengetahui semua program Pemkab. OKI.

"Kalau sudah tahu sudah cinta dengan Kabupaten ini, mereka akan mampu memberitahukan potensi OKI ke masyarakat luar, seperti apa soal membangun desa, soal kedaulatan pangan. Orang begitu datang bicara sama mereka mirip-mirip sayalah cerita mempromosikan Ogan Komering Ilir," jelasIskandar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten OKI, Drs. H. Amiruddin, S. Sos, M. Si mengatakan, pihaknya telah membekali 15 pasang finalis BGBS OKI dengan berbagai pengetahuan dalam masa karantina.

Salah satunya adalah, dengan melakukan kunjungan ke destinasi wisata di kabupaten OKI sepert irumah seratus tiang di Sugiwaras Kecamatan Teluk Gelam serta sentra kerajinan masyarakat di Kecamatan Tanjung Lubuk.

"Bujang dan Gadis OKI bukan saja menjadi Duta Wisata dan Budaya. Tetapi juga menjadi panutan dalam kegiatan kemasyarakatan dan sosial," ujar Amir.

Selain itu, Amir juga menjelaskan bahwa ada satu hal yang baru dalam ajang pemilihan Bujang dan Gadis 2016 kali ini, yaitu finalis yang terpilih betul-betul putra daerah Kabupaten OKI.

“semua finalis merupakan putra daerah. Kita tidak ambil dari luar agar mereka ini benar-benar cinta dengan daerahnya” pungkasnya.

Malam puncak grand final BGBS 2016 diikuti oleh 15 pasang finalis yang memperebutkan 10 kategori. Terpilih sebagai Bujang Bende Seguguk Kabupaten OKI, yaitu Hasan dan Gadis atas nama Tri Azizah Siti Salwa.

MALAM GRAND FINAL BGBS 2016 SUKSES DAN MERIAH

Pelaksanaan pemilihan Bujang Gadis Bende Seguguk (BGBS) Tahun 2016 yang dilaksanakan Dinas Pariwisata Kabupaten OKI terselenggara cukup sukses. Itu terlihat dari pada malam puncak grand final BGBS 2016 yang berlangsung di Pendopoan Rumah Dinas Bupati OKI, Rabu (30/03/16).

Gemerlap lampu sorotan warna warni yang menghiasai panggung BGBS serta layar LED, menjadikan acara yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI, benar benar hidup. Malam grand final BGBS 2016 ditampilkan tarian dari Sanggar Seni Benda Seguguk, fashion show busana khas Sumatera Selatan Rancangan Putri Amalia dan parade alumni BGBS 2015. 

Acara itu disaksikan langsung Bupati OKI, Iskandar SE, FKPD, SKPD, Camat se-Kabupaten OKI, Kemudian hadir juga Ketua TP PKK OKI, Lindasari Iskandar SE, para orang tua dan keluarga serta pendukung peserta finalis BGBS 2016. 

Malam puncak grand final BGBS 2016 yang diikuti 15 pasang finalis dari 118 peserta perwakilan dari Dinas Instansi, dari Kecamatan dalam Kabupaten OKI, dan umum serta pelajar. Dalam finalis BGBS 2016 diambil 10 katagori, yaitu Bujang dan Gadis, Wakil Satu dan Dua Bujang Gadis, Harapan,1,2,3 Bujang dan Gadis, Bujang dan Gadis Persahabatan, Bujang dan Gadis Favorit, Bujang dan Gadis Berbakat serta Bujang dan Gadis Busana Terbaik.

Pada grand final tim juri telah melakukan penilaian secara ketat dan transparan di depan para pengunjung. Hingga akhirnya dewan juri menetapkan Hasan terpilih sebagai Bujang Bende Seguguk dan Tri Azizah Siti Salwa sebagai Gadis Bende Seguguk tahun 2016. 

Bupati OKI, Iskandar, SE mengatakan, sektor pariwisata telah mengambil peran penting dalam membangun perekonomian. Ini terwujud seiring dengan meningkatnya ekonomi bangsa bangsa di dunia yang semakin baik dan maju. Kemajuan dan kesejahteraan ekonomi semakin tinggi telah menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebutuhan gaya hidup manusia.

Menurutnya, kegiatan BGBS 2016 merupakan salah satu upaya yang diharapkan dapat menciptakan sumber daya manusia Kabupaten OKI yang berkualitas, memiliki wawasan dan kepekaan terhadap lingkungan. Serta mampu berdaya saing lokal, nasional maupun internasional dan sekaligus untuk meningkatkan peran generasi muda dalam menumbuhkembangkan, melestarikan budaya. Bupati berharap peserta yang terpilih menjadi BGBS 2016 dapat berperan aktif dalam mempromosikan potensi wisata Kabupaten OKI.



TERBAKARNYA WANUA SRIWIJAYA DI LAHAN GAMBUT SUMATERA SELATAN

Tim Balai Arkeologi Palembang survei di Situs Kanal 12 Ulak Kedondong. Foto: Nurhadi Rangkuti
Terbakarnya hutan dan lahan gambut Sumatera Selatan di 2015, ternyata berdampak pada keberadaan situs-situs arkeologi. Indikatornya seperti penemuan lokasi situs Sriwijaya di Desa Ulak Kendodong, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Situs ini nyatanya ditemukan warga di lokasi gambut yang terbakar.

Fragmen gerabah dan keramik Tiongkok dari Situs Kanal 12. Foto: Nurhadi Rangkuti

Rabu (16/3/2016). Dipandu warga setempat saya bersama tim arkeologi dari Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan mengunjungi lokasi situs di lokasi kebakaran tahun 2015. Lokasi ini masuk dalam konsesi sebuah perusahaan hutan tanaman industri (HTI) di Distrik Sungai Ketupak, yang berdasarkan informasi luasnya sekitar 41.067,56 hektare .

Situs- situs yang terbakar terdapat pada tempat yang bernama Bukit Tengkorak, Pulau Pisang, dan Kanal 12. Saat di Kanal 12, setelah menelusuri kanal-kanal buatan dengan perahu mesin, terlihat sisa-sisa hutan akasia yang terbakar dan menjadi arang, di kiri-kanan kanal.

Lahan gambut seluas 50 hektare di Kanal 12 tersebut, kini tergenang air karena musim hujan. Terlihat gundukan-gundukan tanah bekas galian para pencari harta karun yang menyembul di antara genangan air. Arkeolog coba mengais gundukan yang ditinggal oleh para penggali harta karun itu.

Mereka meninggalkan pecahan-pecahan gerabah dan keramik kuno, fragmen-fragmen kaca impor, kepingan papan perahu kuno dan beberapa butir manik-manik kuno. Benda-benda yang tidak laku dijual itu dikumpulkan arkeolog untuk diidentifikasi lebih lanjut.

“Kebakaran tahun lalu telah menghanguskan semak-semak yang tinggi di sini. Bara api sampai ke bawah permukaan tanah sedalam 1-2 meter. Para penggali harta karun banyak menemukan guci-guci dan tiang-tiang kayu kuno yang hangus terbakar,” kata Renggo, warga Desa Cengal. Lebih lanjut ia menjelaskan ribuan tiang kayu kuno ditemukan di Kanal 12, Pulau Pinang, Bukit Tengkorak sampai ke wilayah Desa Jeruju.

Tiang-tiang kayu kuno bagian dari bangunan rumah panggung yang awet ribuan tahun dalam tanah rawa gambut. Para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Palembang telah mengidentifikasi umur tiang-tiang kayu di situs-situs lahan basah di Karangagung Tengah (Kabupaten Musi Banyuasin) kawasan Air Sugihan Kiri (Kabupaten Banyuasin) dan Air Sugihan Kanan (Kabupaten Ogan Komering Ilir). Tiang-tiang kayu dibuat dari pohon meranti dan ulin. Berdasarkan analisis carbon dating (C14) tiang-tiang kayu di kawasan situs tersebut berasal dari awal Masehi, jauh sebelum munculnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 di Palembang.

Prasasti Sriwijaya
Situs Kanal 12 di wilayah Ulak Kedondong menjadi lebih bermakna dengan ditemukannya prasasti pendek di masa Sriwijaya oleh penduduk. Kini prasasti tersebut diamankan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya di Jambi. Jenis tinggalan arkeologis lain yang sezaman dengan prasasti tersebut adalah keramik-keramik Tiongkok dari masa Dinasti Tang.

Diperkirakan, permukiman (wanua) masa Sriwijaya banyak terdapat di wilayah Kecamatan Cengal, antara lain di daerah aliran Sungai Lumpur yang meliputi Sungai Langipi, Sungai Ketupak, Sungai Serdang, Sungai Jeruju, sampai ke Sungai Pasir. Sungai-sungai tersebut saling terkait dan akhirnya bermuara di Selat Bangka.

“Ada kecenderungan perusahaan besar HTI dan sawit sengaja membendung dan menutup sungai-sungai yang berada di wilayah itu,” kata Renggo sambil menunjuk berbagai jejak sungai yang melewati Situs Kanal 12 Ulak Kedondong. Menurutnya, bekas sungai di situs itu berhubungan dengan Sungai Langipi (Lempipi) yang bermuara di Sungai Lumpur.

Bagi arkeolog, jaringan sungai di rawa gambut dari hulu sampai hilir perlu dilestarikan. Melalui pola aliran sungai dapat dicari situs-situs arkeologi dan pola sebarannya.Pada gilirannya, dapat direkonstruksi peradaban kuno di lahan basah, baik pada masa pra-Sriwijaya maupun pada masa kejayaan maritim Sriwijaya.
Sisa-sisa tiang rumah panggung dari kayu nibung. Foto: Balai Arkeologi Palembang

Terancamnya bukti peradaban Sriwijaya 
Terbakarnya wanua-wanua Sriwijaya di wilayah Kecamatan Cengal tersebut jelas mencemaskan. “Bukti-bukti peradaban maritim Sriwijaya tinggal menunggu waktu saja untuk musnah, jika kebakaran lahan gambut terus terjadi,” kata Dr. Yenrizal, Doktor Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah Palembang, saat berbincang dengan saya, Minggu (20/03/2016).

Badan Restorasi Gambut yang dibentuk Presiden Jokowi dan program Desa Peduli Api (DPA) yang dicetuskan Gubernur Sumatera Selatan perlu menggunakan pendekatan budaya. Agar, situs-situs arkeologi yang juga cagar budaya, dilindungi sekaligus juga dimanfaatkan untuk edukasi kultural dan wisata budaya.





* Nurhadi Rangkuti. Arkeolog, mantan Kepala Balai Arkeologi Sumatera Selatan. E-mail: nurhadirangkuti@yahoo.com - www.mongabay.co.id



BADAN RESTORASI GAMBUT DIMINTA SELAMATKAN BUKTI SEJARAH SRIWIJAYA

Sejumlah organisasi lingkungan hidup dan pekerja seni di Palembang meminta Badan Restorasi Gambut yang dibentuk Presiden Jokowi, bukan hanya mempertimbangkan kondisi gambut yang akan direstorasi, tetapi juga meninjau keberadaan situs-situs sejarah. Khususnya, situs sejarah Sriwijaya di lahan gambut pesisir timur Sumatera Selatan (Sumsel).

“Membaca berita soal penemuan situs Sriwijaya di lahan gambut yang terbakar 2015 lalu, jelas membuat kami sangat cemas. Jangan-jangan sudah banyak situs sejarah terkait Sriwijaya yang musnah atau rusak akibat aktivitas perusahaan maupun peristiwa kebakaran dan perambahan di lahan gambut di Sumsel,” kata sastrawan dan pekerja teater Nurhayat Arief Permana, menanggapi artikel yang ditulis Nurhadi Rangkuti di Mongabay Indonesia, “Terbakarnya Wanua Sriwijaya di Lahan Gambut Sumatera Selatan”, Senin (21/03/2016).

“Saya pikir Badan Restorasi Gambut yang akan membaca dan menata lahan gambut memperhatikan hal ini. Ini terkait dengan sejarah bangsa yang dibangun oleh kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang pengaruhnya sangat luas di Asia, khususnya Asia Tenggara,” kata Arief.

Hadi Jatmiko, yang setuju dengan pernyataan Nurhayat Arief Permana, menilai terancamnya keberadaan situs-situs sejarah Sriwijaya di lahan gambut Sumatera Selatan, membuktikan soal “bobroknya” pemberian izin konsesi di lahan gambut selama ini. “Ini membuktikan mereka yang memberikan izin, bukan hanya tidak paham lingkungan hidup juga tidak “ngeh” mengenai sejarah besar bangsa ini,” kata Hadi.

Kebijakan menghentikan pemberian izin di lahan gambut merupakan langkah yang tepat, tapi prosesreview izin harus tetap dilakukan bukan hanya dengan standar lahan tertata baik atau tidak terbakar, tapi juga berdasarkan wilayah konservasi tinggi karena keberadaan situs-situs sejarah dan keanekaragaman hayati.

Dijelaskan Hadi, saat masih remaja dia sering mendengar peristiwa penemuan benda bersejarah di wilayah gambut pesisir timur Sumatera Selatan. Baik berupa patung, keramik, dan lainnya. Penemuan tersebut mulai dari pembangunan wilayah transmigran maupun aktivitas hak pengusahaan hutan (HPH). “Ceritanya terus berlanjut hingga sekarang, seperti peristiwa di Cengal. Ini membuktikan jika wilayah gambut pesisir timur Sumatera Selatan adalah wilayah penting jejak sejarah bangsa.”

“Jika ini tidak diperbaiki dan diperhatikan, artinya negara telah membiarkan sebuah kehancuran bukti peradaban Sriwijaya, yang merupakan dasar lahirnya negara Indonesia,” kata Hadi.

Kendodong, Desa Peduli Api

Desa Ulak Kendodong, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, tempat ditemukannya situs Sriwijaya di lokasi kebakaran 2015 lalu, merupakan desa yang menjadi sasaran Desa Peduli Api (DPA).

Desa ini satu dari 55 desa di Kabupaten OKI yang berada di lahan gambut, dan rawan dengan kebakaran. Dalam skema DPA yang dijalankan pemerintah Sumsel dengan dukungan berbagai pihak, Desa Ulak Kendodong masuk dalam binaan perusahaan HTI PT. Bumi Mekar Hijau (BMH).

Ada 118 desa yang menjadi sasaran DPA di Sumsel. Desa ini tersebar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 55 desa, Musi Banyuasin (Muba) dengan 25 desa, Ogan Ilir (OI) dengan 22 desa, dan Banyuasin sebanyak 16 desa.

Pada 2015 lalu, kebakaran lahan gambut di wilayah 96 desa tersebut mencapai 377.333 hektare di Kabupaten OKI, 108.281 hektare di Muba, dan 141.126 hektare di Banyuasin.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Pemerintah Sumatera Selatan pada 2016 sebagai pedoman gerakan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, semua desa yang mengalami kebakaran tersebut berada di sekitar perusahaan hutan tanaman industri, perkebunan sawit, perusahaan migas, dan hutan negara.(Taufik Wijaya/Mongabay.co.id)

PERNYATAAN SIKAP SPIRIT PRASTASTI TALANG TUWO UNTUK SELAMATKAN BUMI


Sejumlah organisasi lingkungan hidup, para pekerja budaya,akademisi, aktifis, lembaga budaya, aktifis kemanusiaan, serta pribadi-pribadi yang peduli dengan masa depan Bumi dan pekerja seni di Palembang membuat pernyataan sikap dalam rangka memperingati 15 abad lahirnya prasasti talang tuwo tepatnya 23 Maret 684 Masehi.

 
Berikut isi dari pernyataanya :
Pertama, menghimbau atau meminta para pemimpin dunia, pelaku ekonomi baik besar maupun kecil, serta seluruh bangsa di dunia, untuk menjadikan isi Prasasti Talang Tuwo sebagai spirit bersama menyelamatkan Bumiuntuk kemakmuran dan keselamatan manusia dan makhluk hidup lainnya pada hari ini dan mendatang.

Kedua, kepada para pemimpin negara dan bangsa di Asia Tenggara untuk menyelamatkan dan menjaga semua situs atau peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya, sehingga Kerajaan Sriwijaya terus menjadi inspirasi bangsa di Asia Tenggara untuk memakmurkan manusia dan makhluk hidup lainnya dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Ketiga, kepada para pemimpin dan bangsa Indonesia hendaknya tidak mengikari amanat Prasasti Talang Tuwo.

Keempat, kepada seluruh bangsa di dunia hendaknya terus menjaga perdamaian. Kami percaya hanya kehidupan yang damai yang mampu menjaga masa depan Bumi.

Kelima, marilah kita terus berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya dibukakann hati dan pikiran mereka yang terus merusak Bumi agar mereka kembali menjaga Bumi seperti yang diperintahan Tuhan Yang Maha Esa.

Najib Asmani Pakar Lingkungan dari Universitas Sriwijaya, saat ini kondisi Bumi kian rusak. Kemakmuran yang ingin dicapai manusia pada hari ini, tampaknya tidak sejalan dengan visi atau niat yang diamanatkan raja Kerajaan Sriwijaya.
Menurutnya, upaya kemakmuran yang dilakukan tidak diimbangi dengan pelestarian lingkungan hidup. Akibatnya masa depan Bumi terancam; pemanasan global yang kemudian berujung pada krisis pangan.
Ironinya kata Najib, Asia Tenggara, khususnya Indonesia, yang dulunya makmur dan alamnya terjaga selama Kerajaan Sriwijaya berkuasa, saat ini kondisi alamnya terus mengalami kerusakan. Kebakaran, perambahan hutan dan lahan gambut, serta eksplorasi mineral yang masif terus berlangsung setiap menit di Indonesia.

Bahkan kata dia, pengrusakan alam di Indonesia tersebut bukan hanya menyebabkan kerusakan ekologi, juga menghancurkan bukti-bukti sejarah, seperti situs sejarah Kerajaan Sriwijaya di wilayah gambut Sumatera Selatan, Jambi hingga ke Riau. Bahkan beberapa masyarakat adat pun mulai kehilangan identitas dan wilayahnya.
Kerusakan ini juga berlangsung pada wilayah lain di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Bali, hingga Papua,”katanya.

15 abad yang lalu, tepatnya 23 Maret 684, pemimpin pertama Kerajaan Sriwijaya telah meletakan dasar nilai-nilai perilaku manusia terhadap lingkungan hidup; memanfaatkan kekayaan alam atau isi Bumi untuk kemakmuran manusia bersama makhluk lainnya dengan tetap menjaga kelestarian alam. Sikap ini terpatri dalam Prasasti Talang Tuwo.

Katanya, Pembuatan prasasti yang menandai pembangunan Taman Sriksetra oleh Sri Baginda Śrī Jayanāśa, bertepatan dengan peristiwa matahari tepat berada di atas khatulistiwa atau biasa disebut Ekuinoks Maret.

Pembuatan Prasasti Talang Tuwo dilakukan dua tahun setelah penetapan wanua Sriwijaya (Palembang) yang terbaca melalui Prasasti Kedukan Bukit (16 Juni 682), dapat dikatakan sebagai pijakan ideologi pembangunan yang dilakukan Kerajaan Sriwijaya yang akhirnya terbukti selama beberapa abad membangun peradaban luhur di Asia Tenggara.

Prasasti Talang Tuwo ditemukan Residen Palembang Louis Constant Westenenk pada 17 November 1920 di Talang Tuwo, Talang Kelapa, Palembang. Saat ditemukan keadaan fisik prasasti cukup baik, yang berukuran 50 centimeter x 80 centimeter. Prasasti berangka 606 Saka (23 Maret 684 Masehi) dengan tulisan menggunakan aksara Pallawa yang berbahasa Melayu, yang terdiri 14 baris.Prasasti yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.p.


Berikut terjemahan Prasasti Talang Tuwo yang dilakukan George Coedes;

Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohonkelapapinangarensagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga istri mereka menjadi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan (...) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahāsattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahmā. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.” (RM)



LEMBAGA/PERORANGAN PENDUKUNG PERNYATAAN SIKAP
No.
Nama
Lembaga
1.
Dr. Najib Asmani
Pakar lingkungan Unsri/Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup
2.
Taufik Wijaya
Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup/Mongabay Indon­esia
3.
Nurhadi Rangkuti
Arkeolog/Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup
5.
Erwan Suryanegara
Budayawan
6.
Dr. Yenrizal
Akademisi UIN Raden Fatah/Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup
7.
Rustandi Adriansyah
Ketua BPH Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumatera Selatan
8.
Dodi Suwandi R
Pekerja seni/Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup
9.
Ade Indriani Zuchri
Sekjen Sarekat Hijau Indonesia (SHI)

Anwar Sadat
Serikat Petani Sriwijaya/Lingkar Hijau
10.
Made Ali
Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riu (Jikalahari)
11.
Dian Maulina
Akademisi/Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan Hidup
12.
JJ Polong
Pekerja seni/Spora Intitute/Pekerja Budaya
13.
Adiosyafri
Hutan Kita Institute (HaKI)
14.
Sigit Widagdo
Hutan Kita Institute (HaKI)
15.
Bahtiyar Abdullah
Dusun Sembilan
16.
Muhammad Isa
Kebun Bumi
17.
Saudi Berlian
Pekerja budaya/Pusat Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat, 
Agama, dan Budaya “Puspamaya”
18.
NurhayatArif
Pekerja seni/Tavern Artwork
19.
Conie Sema
Pekerja seni/Teater Potlot
20.
Putut Prabu (Fuad Firdaus)
Pekerja seni
21.
Dedek Chaniago
Direktur SDA Wacth
Dst



SERUNYA PAGI MINGGU DI LAPANGAN SEGI TIGA EMAS KAYUAGUNG

Rutinitas kita dalam keseharian, terkadang bikin bosan dan jenuh. Cak mano idak jenuh, kebiasaan yang dilakukan secara rutin ini cak itu-itu bae

Terkadang kita berfikir dan merasakan, “Bosen ya tinggal di Kayuagung, rutinitas kerja dari senin – jumat, eee hari sabtu sama minggu moyot (Kondangan-red). Rasanya ingin pindah keluar Kayuagung bae.”. Perasaan seperti ini sedikit terobati kalau kita jalan-jalan di area Taman Segi Tiga Emas (Taman Prof.DR.Amri Yahya) Kayuagung.

Pagi minggu biasanya suasana di Lapangan Segi Tiga Emas rame nian, Tapi untuk hari minggu ini agak sepi dikarenakan dari subuh Kota Kayuagung tercinta diguyur hujan. Jadi banyak uwong yang tarik selimut lagi heheeee.

Meskipun kegiatan pagi minggu ini memiliki tagline ‘menghilangkan bosan – menyehatkan badan’ heheeee, walaupun suasana dingin semuanya tetap ladas

Di Lapangan Segi Tiga Emas Kayuagung walaupun habis diguyur hujan, tetapi masih ada yang berolahraga, dari yang ikut senam sehat, lari-lari kecil, bersepedah dan lain-lain. Bukan itu saja kegiatan di Lapangan Segi Tiga Emas ada beberapa komunitas yang masih malu-malu kucing untuk muncul keperpukaan, contohnya komunitas ayam serama juga ada.


Pengunjung di Lapangan Segi Tiga Emas Kayuagung bisa juga menyewa (rental) sepedah gandeng. Untuk anak-anak juga ada rental mobil listrik anak. Selain keseruan tersebut menikmati suasana pagi hari bersama kawan, ada hal menarik lainnya. 

Meskipun jalan yang dilewati bukanlah jalan asing dan ada genangan air, namun ada saja hal-hal baru yang sebelumnya ga pernah diperhatikan. Mungkin lebih tepatnya belum bisa terperhatikan.